Netizen Belum Siap
Terima Konten Edukasi

0
35

Oleh: Dimas Wahyudi

Penulis Adalah Mahasiswa Program Studi Manajemen Komunikasi
Universitas Padjadjaran

Kita juga harus ingat bahwa cara terbaik menanggapi konten tidak mendidik adalah mengabaikannya, bukan menghujat atau justru membagikannya di media sosial. Karena semakin sepi konten tidak mendidik, kreator akan mencari cara lain untuk mendapatkan jumlah penonton.

Kita juga harus ingat bahwa cara terbaik menanggapi konten tidak mendidik adalah mengabaikannya, bukan menghujat atau justru membagikannya di media sosial. Karena semakin sepi konten tidak mendidik, kreator akan mencari cara lain untuk mendapatkan jumlah penonton.

STOP making stupid people famous, adagium tersebut seringkali terlihat dalam kolom komentar postingan viral di media sosial, khususnya Tiktok, YouTube, dan Instagram. Bagaimana tidak, seiring dengan maraknya penggunaan media sosial, banyak di antara kontennya yang dianggap tidak penting, kontroversial, bahkan dicap tidak mendidik.
Penggunaan internet yang tumbuh signifikan menjadi salah satu penyebabnya. Dilansir dari We Are Social, pengguna internet di Indonesia mencapai 205 juta per Januari 2022. Artinya, tiga dari empat orang di Indonesia menggunakan internet.
Banyaknya jumlah pengguna membuat konten yang bertebaran semakin beragam. Segala hal kini dapat menjadi trending topic, viral, dan dibincangkan publik. Tidak terkecuali konten-konten yang tidak mendidik. Perlu digarisbawahi, konten tidak mendidik yang dimaksud adalah konten yang memuat unsur negatif, drama sensasional, dan konten yang dapat memberikan pengaruh buruk bagi masyarakat.
Misalnya, perseteruan artis, video dengan muatan seksual, atau konten prank yang membahayakan. Umumnya, konten tersebut dibuat demi mencapai popularitas, mencari pundi-pundi uang, atau sekadar mendapatkan perhatian.
Seperti yang kita tahu, konten-konten tersebut lebih laku dibandingkan konten edukasi yang memuat pengetahuan. Hal ini terjadi sesuai dengan hukum ekonomi, penawaran terjadi karena permintaan. Minat masyarakat yang tinggi terhadap konten hiburan membuat para kreator menjawab permintaan tersebut.
Hal ini masuk akal karena bagi sebagian besar orang, media sosial merupakan sarana rekreasi yang menjadi pengalihan dari kehidupan yang sebenarnya. Sayangnya, persaingan ketat dalam dunia hiburan mengharuskan para kreator mempertahankan penonton mereka dengan cara apapun.
Alih-alih meningkatkan kualitas konten, beberapa kreator memilih untuk menciptakan sensasi atau memasukkan unsur seksualitas dan ujaran kebencian demi meningkatkan jumlah tayangan.

Panduan
Kurangnya edukasi terhadap para kreator menjadikan mereka tidak memiliki panduan dalam membuat konten. Mekanismenya sederhana, mereka melihat konten yang laku di media kemudian membuat konten serupa dengan harapan dapat viral dan terkenal.
Parahnya, hal ini didukung oleh algoritma sosial media. Sebut saja YouTube, Instagram, dan Tiktok. Media sosial memungkinkan terjadinya polarisasi, di mana pengguna dikelompokkan berdasarkan konten yang sering ia tonton untuk kemudian diberi konten serupa terus-menerus.
Tujuannya jelas, untuk membuat pengguna merasa betah dan berlama-lama bermain sosial media. Masyarakat yang cenderung tertarik dengan konten bermuatan negatif tentu akan semakin candu. Mereka jarang diberi kesempatan melihat konten edukatif. Kalau menemukan pun, akan cenderung diabaikan karena dianggap membosankan dan kurang menarik.
Sebagian besar masyarakat Indonesia belum siap dengan konten edukasi. Konten edukasi yang dimaksud adalah konten yang menyajikan pengetahuan dan informasi sebagai menu utamanya. Polarisasi media sosial diikuti dengan kebiasaan masyarakat mengonsumsi konten tidak mendidik memaksa kita mencari alternatif lain untuk memperbaiki kebiasaan netizen Indonesia, yang akan secara signifikanmemengaruhi kualitas sumber daya manusia.
Belum lagi, sulitnya membuat konten edukasi yang menarik ditambah minat masyarakat yang semakin kecil menjadikan para kreator membanting setir. Banyak dari mereka yang memilih berhenti atau beralih membuat konten hiburan karena memiliki permintaan yang lebih tinggi.
Dengan demikian, hal yang pertama kali dapat dilakukan adalah membuat konten hiburan yang bermuatan positif. Ini akan jauh lebih mudah ketimbang ‘melawan’ konten tidak mendidik dengan konten edukasi.
Semua orang butuh hiburan, dan umumnya mereka mencari hiburan itu di sosial media. Sebelum beralih ke konten edukasi, masyarakat kita perlu menerima konten hiburan yang edukatif atau minimal tidak memuat terlalu banyak hal negatif.

Memilah konten
Karena, kebutuhan terhadap hiburan tidak dapat dihilangkan, tetapi selera humor dan jenis hiburan yang ditampilkan dapat diperbaiki. Kreator dapat mengurangi muatan negatif dalam konten hiburan sembari memasukkan muatan edukasi ke dalamnya untuk mengubah persepsi masyarakat bahwa terdapat hiburan yang baik dan berkualitas.
Sebagai contoh, sebut saja Youtuber kondang Raditnya Dika, seorang komedian yang sukses memasukkan edukasi tentang literasi finansial dan produktivitas dalam konten YouTubenya. Konten hiburan yang edukatif dapat menjadi transisi dan sarana masyarakat untuk membangun kesadaran terhadap pentingnya ilmu pengetahuan.
Ketertarikan terhadap hal ini perlu dibangun perlahan-lahan, mengingat sebagian besar konten edukasi dianggap tidak menarik oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, dibuktikan dengan jumlah peminat yang sedikit.
Dalam perspektif psikologi, mengubah suatu kebiasaan seperti beralih menikmati jenis konten berbeda tidak dapat dilakukan secara ekstrem. Salah satunya dijelaskan mengenai teori Habit Loop, sebuah konsep dari Behavioral Science mengenai pola pikir psikologis yang mengatur cara kerja perilaku kita dalam membentuk atau menghilangkan kebiasaan buruk.
Perlu perubahan kecil secara terus-menerus untuk menciptakan kebiasaan baru yang lebih baik. Karena semakin sering kita melakukan suatu hal, semakin besar pula peluang kita bertahan melakukannya.
Proses transisi ini perlu didukung oleh semua pihak, mulai dari pemerintah, para kreator, sampai kita sebagai masyarakat yang memiliki kesadaran akan pentingnya konten edukasi dapat dijangkau. Pemerintah perlu melakukan pembinaan terhadap para kreator, juga menetapkan batasan serta penegakan terhadappayung hukum yang jelas. Karena, hal tersebut yang dapat membatasi para kreator ‘nakal’ dalam eksploitasi konten-konten tidak mendidik.
Layaknya pengaruh supply and demand, kreator dan penikmat konten saling memengaruhi. Sebagai masyarakat, kita memiliki peran penting untuk memilah dan membagikan konten hiburan positif. Dengan meningkatnya penikmat konten hiburan yang positif, permintaan akan semakin tinggi dan para kreator akan mulai tertarik untuk membuat hal serupa.
Kita juga harus ingat bahwa cara terbaik menanggapi konten tidak mendidik adalah mengabaikannya, bukan menghujat atau justru membagikannya di media sosial. Karena semakin sepi konten tidak mendidik, kreator akan mencari cara lain untuk mendapatkan jumlah penonton. Dengan harapan muncul konten dengan ide-ide baru yang dapat menghibur sembari mengedukasi, agar masyarakat mulai terbiasa dengan ilmu pengetahuan dan hal edukatif lainnya. Stop making stupid people famous, letsmake educational content glorious.***