TANDA TANGAN

0
32
Abdul Rozak

Oleh: Abdul Rozak

Guru Besar pada Fakultas Pendidikan dan Sains

Kita akan diminta pertanggung jawaban segala tindak selama di dunia. Berhati-hati penjabat karena mempunyai tanggung jawab sangat besar, yaitu amanah. Tanda tangan penjabat adalah pelaksanaan amanah. Kesalahan pembubuhan tanda tangan adalah menyalahi amanah. Dari Abu Hurairah: Telah bersabda Rasulullah SAW : “Tunaikanlah amanah kepada orang yang memberikanmu amanah, dan jangan kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (HR. Abu Daud no. 3535, at- Tirmidzi no.1264)

Kita akan diminta pertanggung jawaban segala tindak selama di dunia. Berhati-hati penjabat karena mempunyai tanggung jawab sangat besar, yaitu amanah. Tanda tangan penjabat adalah pelaksanaan amanah. Kesalahan pembubuhan tanda tangan adalah menyalahi amanah. Dari Abu Hurairah: Telah bersabda Rasulullah SAW : “Tunaikanlah amanah kepada orang yang memberikanmu amanah, dan jangan kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (HR. Abu Daud no. 3535, at- Tirmidzi no.1264)

ANNA Sabandina mencermati undangan dari atasannya yang disampaikan melalui grup karyawan. Dia memahami maksud undangan dengan keumuman. Isi undangan telah terbiasa. Isinya meminta kehadiran para karyawan dalam kegiatan silaturahmi. Pada umumnya, biasanya Anna dan siapa pun jika menerima undangan yang penting dilihat adalah rincian waktu dan tempat.

Acara telah tercantum pada perihal undangan. Rincian acara biasanya tidak terlalu menarik untuk dibaca dan biasanya tidak selalu dicantumkan. Anna Sabandina selalu mencermati redaksi undangan. Mata hatinya selalu tertarik untuk meneliti kesesuaian redaksi dengan ketentuan berbahasa dan berlogika.

Redaksi undangan yang sedang dibacanya kurang memerhatikan unsur ketaatan bahasa dan kurang memerhatikan logika. Dia tidak habis berpikir mengapa redaksi undangan ini lolos dari cermatan mata hati atasannya (yang menandatangani surat undangan).

Anna sangat khawatir penanda tangan surat tidak membaca dengan cermat. Biasanya menurut ketentuan persuratan sebelum atasan menandatangani harus diparaf oleh bawahan langsung atasan. Tanda paraf berarti merujuk pada persetujuan, telah dibaca dengan cermat. Seharusnya begitu. Atasan seharusnya “tidak terlalu memercayai” paraf, dia harus membaca juga dengan cermat yang berlebih.

Atasan harus menyadari bahwa keterjadian kesalahan pada surat adalah tanggung jawabnya, bukan pengonsep surat atau yang memaraf. Jadi, setelah surat itu diedarkan tanggung jawab hanya milik penanda tangan.

Anna Sabandina selalu berhati-hati pada saat akan menandatangani persetujuan karya ilmiah (skripsi, tesis, artikel ilmiah) mahasiswanya. Dia akan membaca berulang dan bertanya berulang kepada mahasiswanya. Dia khawatir terdapat kesalahan yang fatal. Kesalahan fatal, misalnya terdapat plagiasi pada tulisan itu ilmiah berakibat pada tercelanya penulis. Penulis tidak akan mudah memulihkan namanya.

Oleh karena itu, Anna akan selalu berlama-lama memeriksa karya ilmiah mahasiswa, karena semua karya ilmiah mahasiswa akan dipublikasikan. Karya ilmiah itu akan masuk ke dalam komunitas ilmuwan. Jadi, proses penandatanganan itu sesungguhnya panjang, jika berpikir panjang untuk masa depan, untuk kebaikan semua, untuk menjadi kehormatan, untuk memberikan kebaikan kepada banyak orang. Mewujudkan kebaikan melalui proses kesabaran.

Ketergesa-gesaan dapat mencelakakan siapa pun. Kesadaran akan pengaruh terhadap setiap aktivitas harus menjadi prinsip utama. Terkadang kita melupakan kondisi yang terbangun setelah melakukan kegiatan. Bahkan, tidak jarang kita lupa telah melakukan sesuatu.

Beberapa tahun yang lalu, Anna Sabandina meminta izin kepada seseorang yang menandatangani surat undangan. Anna tidak dapat hadir. Dia minta izin melalui telepon. Penanda tangan menanyakan undangan apa. Anna menyebutkan dengan lengkap isi undangan itu. Reaksi penanda tangan itu membuat Anna tersenyum. Penanda tangan itu menyatakan lupa telah menandatangani surat itu.

Anna memaklumi penjabat banyak sekali pekerjaan, banyak hal yang harus ditangani, tetapi penjabat harus “panjang ingatan”. Dia harus mencatat pada hatinya segala hal yang menjadi tanggung jawabnya dan hal apa saja yang telah dikerjakannya untuk menuntaskan tanggung jawabnya.

Ingatan merupakan unsur penting bagi penjabat. Perilaku yang dimunculkan bergantung kepada pengingatan. Bisa saja penjabat tidak melakukan apa pun setelah menandatangani naskah sumpah jabatan karena dia tidak mengingat isi naskah itu. Bisa saja seorang penjabat melakukan segala hal yang tidak terkait dengan amanah jabatannya karena dia tidak ingat naskah serah terima yang telah ditandatanganinya. Seorang penjabat mungkin melakukan berbagai aktivitas yang tidak terkait dengan posisi jabatannya karena dia tidak ingat isi naskah program kerja yang telah ditandatanganinya.

Banyak juga penjabat yang baru dilantik lupa janjinya yang telah disampaikan kepada publik pada saat berkampanye. Penjabat itu melakukan berbagai aktivitas yang tidak terkait dengan isi janjinya. Program disesuaikan dengan keperluan dan kemampuan. Penjabat yang seperti ini lupa bahwa rakyat pemilihnya telah mencatat segala hal yang dijanjikan pada saat berkampanye.

Rakyat selalu mendoakan agar para penjabat menjalankan programnya sesuai dengan yang dijanjikan. Para penjabat/kepala daerah yang mendengarkan doa rakyatnya dapat menjalankan pemerintahannya dengan baik, banyak kemajuan tercapai, selamat sampai dengan akhir jabatannya (tidak berakhir di penjara).

Para kepala daerah yang istiqomah selalu memerhatikan setiap naskah yang harus ditandatanganinya. Mereka memikirkan dengan matang segala akibat dari tanda tangan itu. Hanya tanda tangan, tidak panjang, tetapi berakibat panjang. Karena tanda tangan masyarakat menjadi sejahtera, karena tanda tangan masyarakat tidak sejahtera. Karena tanda tangan seseorang dapat masuk penjara, karena tanda tangan seseorang mendapat penghargaan.

Segala kegiatan yang dilakukan orang-orang bijak akan selalu mengikuti prosedur yang berlaku, akan ditelaah tujuan naskah ditulis, atas dasar apa naskah ditulis, dan apa dampaknya. Seseorang yang berhati-hati mesti selalu bertanya kepada stafnya sebelum membubuhkan tanda tangan pada naskah itu.

Anna Sabandina ingat beberapa tahun yang lalu mempunyai atasan yang sangat hati-hati, teliti, penuh selidik terhadap naskah surat. Sebelum menandatangani naskah selalu terjadi tanya jawab. Segala hal ditanyakan, terutama dasar hukumnya. Redaksi naskah selalu menjadi bagian penting didiskusikan. 

Redaksi naskah selalu menjadi pokok diskusi. Pilihan kata terasa bermakna setelah melalui diskusi yang panjang. Kata per kata ditelaah pengaruhnya. Atasan Anna berpikir holistik. Segala akibat dari penggunaan kata dan penyusunan kalimat dihitung dengan cermat, dipikirkan dengan hati. Diskusi sering dilakukan untuk menemukan kesepakatan dalam kesepahaman.

Banyak hal muncul di luar pokok naskah, tetapi terjalin dalam kaitan dengan kehidupan. Perbincangan dalam bertugas menjadikan kenikmatan dalam penjalananannya. Kita tidak merasa bosan. Tugas bukan lagi beban. Pengambilan manfaat dalam berkehidupan menjadi kenikmatan dalam menyelesaikan tugas. Tugas bukan sekadar pekerjaan rutin yang harus dilaksanakan dan setelah itu selesai.

Semua tentang pemaknaan terhadap aktivitas. Hidup bermakna bagi Anna adalah memaknai setiap gerakan yang berujung pada peningkatan kualitas hidup. Setiap coretan harus menjadi makna. Sekecil apa pun Anna selalu memaknai agar kehidupan tidak sia-sia. Sangat sayang menggunakan waktu yang tidak berdampak pada investasi bagi akhirat yang menjadi tempat abadi. Begitu goresan tanda tangan tergores terbentang segala kemungkinan. Berpikir matang, menghitung dampak ke depan, menimbang diri dan semua yang terlibat adalah tindakan bijak sebelum membubuhkan tanda tangan.  Anna berterima kasih kepada atasan yang telah “mengajari” hidup berbaik melalui perilaku, perikata, dan obrolan santai.

Kita akan diminta pertanggung jawaban segala tindak selama di dunia. Berhati-hati penjabat karena mempunyai tanggung jawab sangat besar, yaitu amanah. Tanda tangan penjabat adalah pelaksanaan amanah. Kesalahan pembubuhan tanda tangan adalah menyalahi amanah. Dari Abu Hurairah: Telah bersabda Rasulullah SAW : “Tunaikanlah amanah kepada orang yang memberikanmu amanah, dan jangan kamu mengkhianati orang yang mengkhianatimu.” (HR. Abu Daud no. 3535, at- Tirmidzi no.1264).***