Perlunya Resolusi Kebijakan Fiskal Nasional, Upaya Memenuhi Kebutuhan Essensial Masyarakat

0
45

Oleh: Muzayyin Haris

Aksi Demonstrasi itu sah-sah saja di alam demokrasi. Itu adalah bentuk masih terbukanya nurani dan merupakan fakta bahwa masyarakat kita masih berempati.

Di belahan bumi manapun, baik di negara yang sudah established sekalipun, demonstrasi diperlukan sebagai kontrol atas arah kebijakan pemerintahan. Demontrasi bukanlah hal yang buruk. Bukan sesuatu yang buruk bagi demonstran (rakyat), atau sebaliknya bagi yang didemo (pemerintah).

Kalau me-review kembali dua tahun ke belakang, kita pasti sama-sama akan mengatakan, “ya, kita dalam situasi sulit.” Apa itu? Dunia dilanda pandemi Covid-19. Akibat dari musibah global ini bukan hanya terkait kesehatan. Tapi merambah ke berbagai aspek yaitu ekonomi, sosial, pendidikan, agama, pariwisata, dan lain-lain.

Di sektor ekonomi makro, aktivitas ekspor-impor menurun drastis. Akibatnya banyak pabrik yang tutup dan akhirnya mem-PHK ribuan karyawannya. Di sektor ekonomi mikro, daya beli masyarakat turun. Ini menandakan kondisi masyarakat kecil yang semakin sulit. Kemudian di sektor pendidikan, kita merasakan betul pergesaran pola aktivitas anak-anak usia sekolah menjadi sangat tidak produktif.

Untungnya, negara kita masih bisa bertahan dalam situasi tersulit itu. Keuangan nasional masih dinyatakan sehat. Dan kondisi masyarakat pada tataran bawah, masih stabil dalam hal terpenuhinya kebutuhan pokok, yaitu pangan dan papan.

Dikutip dari laman Kompas.com 7 April 2022, berikut adalah penggelontoran uang negara sebagai upaya untuk meringankan beban yang dirasakan masyarakat, bantuan Sosial berupa BPNT dan PKH, kartu pra kerja, BLT dana desa, BSU, BLT UMKM, dan  BLT minyak goreng. Kemudian, ada penggelontoran uang Negara di bidang pendidikan berupa dana BOS dan Kartu Indonesia Pintar. Serta ada penggelontoran uang Negara sektor papan yaitu BSPS yang bentuknya subsidi pemerintah untuk memperbaiki rumah yang tidak layak huni.

Itu adalah sebagian upaya negara untuk meringankan beban masyarakat secara luas. Apakah masih banyak yang kurang? Ya, tentu. Kita ini masih dalam kategori negara berkembang. Tentu masih banyak hal yang perlu dikejar dan diperbaiki.

Untuk itu melalui tulisan ini, selaku bagian masyarakat Indonesia, saya hendak memberikan sumbangan pemikiran untuk kemajuan bangsa. Kemajuan bangsa dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia sudah barang tentu cita-cita bersama kita.

Gagasan saya terkait kebijakan fiskal Nasional, yaitu pertama, Negara tidak boleh terus-terusan untuk menggelontorkan bantuan yang sifatnya jangka pendek. Pos anggaran bantuan yang ada harus dikemas untuk meningkatkan produktifitas ekonomi masyarakat. Akhirnya peningkatan ekonomi jangka panjang yang mereka rasakan. Kedua, stop impor barang dari luar negeri. Bila perlu negara membeli hasil produksi rakyat untuk menyuplai kebutuhan nasional, semisal gabah. Negara kita adalah negara agraris, ketersediaan padi kita melimpah. Ketiga, berikan pos anggaran yang besar dan regulasi yang mudah untuk mendukung industri yang menghasilkan barang yang banyak dikomsumsi publik saat ini. Semisal teknologi (handphone, laptop, TV) atau automotif (motor, mobil, mesin-mesin ). Saya kira banyak anak-anak dibangsa kita yang mampu untuk memproduksi itu.

Keempat, berikan pos anggaran yang besar pada pertahanan negara. Bukan hal yang naif, jika soal pertahanan ini adalah hal yang juga penting. Ini menyangkut kesiapsiagaan negara dalam menjaga kedaulatan di mata dunia internasional. Kelima, berikan porsi anggaran yang besar pada Kementerian Agama. Terutama sektor pendidikan. Kementerian Agama terbukti berhasil mengelola pendidikan. Siswa jebolan Kementerian Agama dididik tidak hanya keilmuan umum. Namun keilmuan agama. Justru, kalau membicarakan pendidikan karakter, lebih dominan di lingkungan pendidikan yang dikelola Kementerian Agama.

Akhirnya, kita semua pasti punya cita-cita bersama yaitu mewujudkan negara ini menjadi maju dan tak terkalahkan. Serta kita berkeingan seluruh rakyatnya Indonesia sejahtera. Ayo rendahkan hati kita untuk kembali berangkulan. Ayo cintai bangsa ini dengan setulus-tulusnya dengan tidak dirusak oleh kepentingan dan ego kita. ***(Penulis merupakan mantan aktivis/pegiat sosial)