Wartawan di Masa Pandemi: Antara Pencegahan Covid-19 dan Hoaks

0
51

Oleh: Fanny Crisna Matahari

Demam naik turun ditambah tenggorokan sakit membuat Iskandar, seorang wartawan lokal di Cirebon Jawa Barat, menghentikan sejenak aktivitasnya. Curiga, ia lantas memeriksakan diri ke dokter dan dilakukan tes antigen, hasilnya ia dinyatakan positif Covid-19. Dokter di klinik ia memeriksakan diri menyarankan Iskandar untuk melapor ke Puskesmas setempat. Di Puskesmas, ia pun dilakukan tes PCR, juga dinyatakan positif Covid-19. Kondisi yang dialami Iskandar ini terjadi pada Juli 2021. Saat itu, ia menjalani isolasi mandiri selama dua minggu.

Berdasarkan data pada Kementerian Kesehatan RI, tepatnya pada 15 Juli 2021 Indonesia memasuki masa puncak pandemi Covid-19. Pada 15 Juli 2021, jumlah harian Covid-19 di Indonesia mencapai 56 ribu kasus.  Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 juga mengatakan, jumlah kumulatif kematian akibat virus corona (Covid-19) sepanjang Juli 2021 menjadi yang terbanyak selama pandemi Covid-19 menerpa Indonesia. Jumlah kumulatif kematian Covid-19 selama periode 1-29 Juli sudah mencapai 32.061 kasus. Jumlah itu empat kali lipat lebih banyak dibandingkan Juni 2021 dengan total 7.913 kasus kematian.

Pun demikian dengan Kota Cirebon. Berdasarkan data di Dinas Kesehatan Kota Cirebon, pada Juli 2021 terdapat lebih dari 2 ribu kasus aktif. Penularan begitu cepat, terutama mereka yang beraktivitas sehari-harinya  bertemu dengan banyak orang, salah satunya wartawan.

Hal ini membuat sejumlah perusahaan media memutar otak agar pemberitaan terus berlanjut namun awak media di lapangan tetap aman dan selamat. Salah satunya dengan ikut menerapkan work from home (WFH), meski tidak bisa 100 persen dijalankan, karena ada peristiwa yang membuat wartawan tetap harus berada di lapangan.

Bagi wartawan yang tidak terpapar Covid-19, mereka sewaktu-waktu berada di lapangan, demi menjalankan fungsinya sebagai penyebar informasi. Walau bagaimanapun, pemberitaan yang akurat memerlukan kehadiran fisik wartawan di lapangan. Meski demikian, mereka berupaya menegakkan protokol kesehatan agar pandemi tidak menyebar.

Memerangi Covid-19, wartawan di Cirebon tak hanya menyebarkan pentingnya penegakan protokol kesehatan melalui pemberitaan, namun ada juga yang secara langsung mengedukasi warga tentang protokol kesehatan tersebut. Sembari liputan, biasanya mereka membawa banyak masker untuk dibagikan kepada warga yang mereka temui di jalan. Meski terlihat sederhana, namun andil mereka di saat pandemi turut diacungi jempol.

Soliditas wartawan juga terlihat saat masa pandemi Covid-19. Di grup WhatsApp wartawan Cirebon, soliditas ini ditunjukkan antara lain dengan berdonasi bagi sesama wartawan yang terpapar Covid-19. Saat masa puncak pandemi Covid-19, setidaknya lebih dari 10 wartawan terkonfirmasi positif dan diberikan donasi oleh wartawan lainnya.

Bagi wartawan yang pernah terkonfirmasi positif Covid-19, hal ini setidaknya akan memengaruhi tulisan mereka tentang pemberitaan Covid-19. Usai dinyatakan sembuh, Iskandar menuturkan jika Covid-19 memang nyata. Hal itu lantas ia tegaskan juga dalam pemberitaannya dengan mewawancarai sejumlah narasumber terkait, seperti Dinas Kesehatan serta Satgas Covid-19 Kota Cirebon.

Menurut Iskandar, fakta bahwa Covid-19 itu nyata bukan untuk menakuti masyarakat. Sebaliknya, fakta itu harus disebarkan agar masyarakat waspada dengan cara menerapkan protokol kesehatan. Tak hanya menerapkan protokol kesehatan, pencegahan penyebaran Covid-19 juga dilakukan melalui vaksinasi.

Tak bisa dipungkiri, media menjadi salah satu garda depan dalam pencegahan Covid-19. Salah satunya bisa dilihat bagaimana media bisa menangkis isu-isu hoaks yang disebarkan oknum tidak bertanggung jawab di tengan masa pandemi Covid-19 ini. Hoaks yang banyak bertebaran di lini media sosial mau tidak mau berpengaruh saat vaksinasi dimulai. Terutama saat vaksinasi terhadap warga lanjut usia dimulai.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) hingga Minggu (13/3/2022) mencatat ada 473 temuan hoaks seputar vaksin yang tersebar di berbagai media sosial dan sebarannya mencapai 2.687 konten. Sebaran hoaks paling banyak ditemukan di Facebook. Di sana terdapat 2.491 konten hoaks seputar vaksin Covid-19.Sementara Twitter berada di posisi kedua. Dalam catatan Kementerian Kominfo ada 111 sebaran hoaks soal vaksin Covid-19 di platform ini. Situs berbagi video, seperti YouTube dan TikTok, juga tak luput dari sasaran hoaks. Tercatat, ada 43 hoaks di YouTube dan 21 di TikTok. Lalu 21 sebaran hoaks sisanya ditemukan Kementerian Kominfo berada di Instagram. Pihak Kementerian Kominfo sudah melakukan takedown kepada semua informasi hoaks tersebut.

Salah satu hoaks yang ‘memakan banyak korban’ adalah vaksin yang mengandung mikrocip magnetis. Media mainstream cukup memainkan banyak perannya untuk menangkal hoaks semacam ini. Hoaks vaksin mengandung mikrocip magnetis ini menyeruak masuk ke ruang-ruang nyata, sampai-sampai membuat vaksinasi sepi di awal. Wartawan media ini beberapa kali mendapati petugas vaksin di Puskesmas duduk dengan sabar menunggu warga datang, terutama lansia, untuk divaksin, namun yang datang hanya satu-dua orang.

Namun, secara perlahan, hoaks-hoaks tersebut mampu ditangkal, terutama dengan massifnya pemberitaan positif terkait vaksin. Tak heran, capaian vaksinasi di Kota Cirebon cukup tinggi. Hingga Sabtu, 12 Maret 2022, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan,  total sasaran vaksinasi yang terdiri dari tenaga kesehatan, petugas publik, lansia, masyarakat umum, remaja, dan gotong royong sebanyak 262.198, dan 283.560 jiwa di antaranya telah divaksin pada dosis pertama atau tercapai 108,15 persen, dan 228.009 di antaranya sudah divaksin dosis kedua atau tercapai 86,96 persen, sementara 37.682 jiwa sudah diberikan booster atau vaksin dosis ketiga atau tercapai 14,37 persen. Sementara untuk sasaran vaksinasi anak-anak mencapai 31.187 jiwa, pada dosis pertama telah divaksin 37.554 jiwa atau tercapai 120,42 persen, dan 22.804 telah divaksin untuk dosis kedua atau tercapai 73,12 persen.

Langkah dan strategi juga dilakukan Pemda Kota Cirebon untuk meningkatkan capaian vaksinasi, mulai dari meningkatkan rata-rata harian orang yang divaksin setiap hari. Di awal vaksinasi Covid-19, jumlah warga yang divaksin mencapai 600 an orang setiap hari.  Angka ini dianggap belum cukup tinggi karena hanya mengandalkan jaringan puskesmas di Kota Cirebon. Selanjutnya, cakupan vaksinasi harian ditingkatkan antara 1.500 hingga 3 ribu orang per hari. Caranya yaitu menjalin kerjasama dengan rumah sakit pemerintah, swasta, politeknik, fakultas kedokteran, dan layanan kesehatan lainnya.

Pada Juni 2021 lalu, Kota Cirebon bertengger di tempat ke tiga sebagai daerah di Jawa Barat dengan cakupan vaksinasi tertinggi setelah Kota Cimahi dan Kota Bandung. Sementara untuk capaian vaksinasi lansia, Kota Cirebon berada di posisi ke empat setelah Kota Bogor, Kota Cimahi dan Kota Bandung.

Terbaru, per 14 Maret 2022, sebanyak 2.149 warga di Kota Cirebon masih dirawat akibat Covid-19. Sementara untuk level PPKM, kini Kota Cirebon berada di level 3 setelah sebelumnya bertengger di level 4. Pemerintah Daerah Kota Cirebon pun sedang memikirkan langkah agar pembelajaran tatap muka (PTM) bisa digelar kembali.

Dalam suatu jumpa pers bersama awak media, Wali Kota Cirebon H Nashrudin Azis mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada wartawan. Selama masa pandemi yang telah berjalan selama dua tahun ini, semua daerah berjuang bersama untuk terbebas. Diakui Azis, media telah berperan dalam bahu-membahu pencegahan penyebaran Covid-19, yaitu melalui edukasi dan sosialiasi melalui pemberitaan.***