Mereka Bicara Suksesi di Balai Kota, Tahun (Politiknya) Perempuan

0
59
KOLASE sejumlah figur perempuan

CIREBON, (KC Online).-

Meski suksesi di balai kota masih dua tahun lagi, namun sejumlah nama mulai muncul di kalangan masyarakat. Yang menarik, nama-nama tersebut justru kebanyakan perempuan. Ada yang beranggapan bahwa Pilwalkot 2024 mendatang jadi tahun politiknya perempuan.

Anggapan ini ada benarnya jika melihat figur-figur perempuan yang kini sedang manggung. Sebut saja ada Wakil Wali Kota Cirebon Eti Herawati, Ketua DPRD Affiati, Ketua DPC PDIP Fitria Pamungkaswati, Ketua Komisi III DPRD Tresnawaty, Ketua KONI Wati Musilawati, Fifi Sofiah dan sejumlah nama lainnya.

Salah seorang tokoh perempuan Cirebon, Fifi Sofiah mengungkapkan, peluang perempuan di Pilkada 2024 sangat terbuka lebar.  “Terutama perempuan yang sudah berkontribusi bagi daerah ya, kemunculan mereka di 2024 sangat tepat momennya,” ujar Fifi, Minggu (23/1/2022).

Menurutnya, pihaknya sangat mendukung jika banyak perempuan yang maju di helatan pilkada.  “Tentu saya mendukung perempuan maju di Pilkada 2024. Namun sepertinya harus ada strategi yang terukur. Misalnya, E1-nya perempuan maka E2-nya jangan perempuan lagi, sebab kalau perempuan semua itu sepertinya berat. Bisa saja terjadi E1-nya perempuan dan E2-nya laki-laki, ini lebih bagus,” ungkapnya.

Tokoh perempuan Cirebon lainnya, Lili Eliyah mengatakan, perempuan untuk maju di Pilkada 2024 sangat memungkinkan. “Tapi peluang itu tergantung si perempuan itu ya, kalau merasa mampu ya perjuangkan, tapi kalau ragu ya jangan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, biasanya jika seorang perempuan memiliki niat dan keinginan maka dia akan berjuang keras melakukan sesuatu hingga sampai tujuan. “Kalau ada keinginan dan niat, biasanya perempuan itu akan terus maju meskipun ada halangan-halangan,” tuturnya.

Menanggapi hal itu, Menurut Ketua DPD PAN Kota Cirebon, Dani Mardani, semua putra terbaik Kota Cirebon memiliki peluang yang sama. Bahkan tidak hanya perempuan, banyak juga figur-figur muda yang diprediski bakal muncul untuk meramaikan suksesi di balai kota.

Baca Juga  Ponpes Al-Ikhlash Kanggraksan Gelar Haul KH Qusyaeri

“Bahkan figur lama juga berpotensi muncul lagi. Misalnya ada Pak Oki dan Pak Edo. Belum lagi dari kalangan profesional. Sementara figur perempuan ada Ibu Eti Herawati sebagai petahana, Ibu Fitria,” kata Dani semalan.

Menurut Dani, bicara suksesi wali kota harus dilihat dari peta politik Pileg 2024. “Artinya, tergantung konfigurasi hasil Pemilu Legisltaif 2024 karena sangat mempengaruhinya. Karena hal ini berkaitan dengan persyaratan dukungan untuk maju sebagai kandidat Pilwalkot,” sebut Dani

Sementara di mata tokoh perempuan Cirebon lainnya, Sri Maryati, keterwakilan perempuan di bidang politik masih minim,  terutama keterwakilan di parlemen sebagaimana data dari World Bank  (2019). Data Word Bank menunjukkan bahwa Indonesia menjadi megara ke-7 di Asia Tenggara terkait dengan keberadaan perempuan di parlemen.

“Tentunya ini akan berpengaruh terhadap kebijakan-kebijakan yang terkait dengan kesetaraan gender dan lainnya yang terkait langsung dengam isu perempuan,” ujar Sri yang dikonfirmasi semalam.

Kiprah perempuan

Sementara itu, lanjut dia, secara faktual banyak perempuan yang telah berkiprah dan berpartisipasi langsung dalam kehidupan sosial ekonomi dan juga berbagai profesi lainnya secara aktif, bahkan banyak melahirkan inovasi–inovasi yang dapat menunjang di setiap sektor yang di bidanginya.

“Hal ini akan membuat kiprah perempuan akan semakin terbuka untuk ikut serta dalam kontestasi politik di berbagai momen. Baik momen pileg di setiap tingkatan maupun momen pilkada. Dengan banyaknya jumlah perempuan yang terjun langsung ke dunia politik ataupun yang berkiprah di berbagai profesi lainnya, akan memberikan warna tersendiri bagi maraknya pesta demokrasi yang riil guna memperjuangkan kebijakan-kebijakan konkret, nyata dan berkeadilan,” sebutnya.

Lebih lanjut Sri memaparkan, jika kita melihat poternsi yang ada di Kota Cirebon sudah banyak perempuan–perempuan yang berkiprah dan berinvestasi sosial di  masyarakat, sehingga hal ini semakin membuka lebar peluang keterlibatan perempuan untuk menjadi bagian bahkan mengambil alih tampuk kepemimpinan di tingkat daerah.

Baca Juga  Pasal Tatib Pemilihan Wabup Masih Tarik Ulur

“Mereka yang lebih dahulu hadir adalah mereka yang telah terjuan langsung pada tingkatan parlemen dan mereka telah memiliki modal dasar untuk dapat dikenali oleh masyarakat, namun bagi mereka yang tidak terdapat di lingkungan parlemen memiliki peluang yang sama karena kiprah dan investasi sosial yang telah dilakukan dalam waktu yang cukup lama. Tinggal bagaimana perempuan itu menunjukkan integritas dalam kiprahnya sehingga masih terus eksis dalam setiap aktiviats sosial maupun politiknya,” ungkap Sri.

Menurut dia, perempuan harus memiliki pembeda dalam memperjuangkan kebijakan-kebijakan potiknya sehingga akan berdampak langsung terhadap arah dan tujuan keberadaan perempuan itu sendiri dalam kiprahnya di semua lini.

“Saya melihat peluang pertama adalah meraka yang notabene perempuan yang berada di parlemen, terlebih lagi mereka yang berada di tampuk kepemimpinan  partai politik. Karena tentunya ini pencapain tertinggi bagi kader partai untuk dapat memimpin organisasinya, yakni partai politik untuk dapat mewujudkan tujuan partainya yang sejalan dengan tujuan mewujudkan masyarakat yang maju dan sejahtera,” jelas Sri.

Sri mencontohkan, misalnya  Ibu Eti Herawati, Ibu Fitria,  dan perempuan lainnya yang saat ini sedang berkiprah langsung di dunia politik dan mereka saat ini sedang melakukan kerja-kerja politiknya sesuai dengan fungsi dan porsinya, namun juga harus melihat ada beberapa figur lainnya yang juga saat ini berkiprah  dalam dunia sosial kemasyarakatan lainnya, sebut saja Ibu Wati musilawati yang juga berkiprah di berbagai organisasi profesi, maupun organisasi sosial lainnya. Jaringannya cukup luas dan sudah banyak dikenal masyarakat Cirebon.

“Saya melihat peluangnya cukup sama, terlebih lagi bahwa perhitungan politik akan berubah setiap waktunya. Tentunya ini mesti dipersiapkan bagi perempuan–perempuan yang memiliki potensi dan peluang untuk berpartisipasi dalam kontestasi politik yang digelar rutin lima tahunan,” tambah kandidat doktor ini.(Fanny)

Baca Juga  Hari Pertama Pencabutan Aktivitas, Azis Pantau Pusat Perbelanjaan