Budayawan: Ateria Dahlan Sudah Menyinggung Perasaan Orang Sunda

0
47

MAJALENGKA, (KC).-
Sejumlah budayawan asal Majalengka menyesalkan ungkapan anggota DPR RI dari Komisi III Ateria Dahlan yang meminta Kajati Jawa Barat dicopot hanya karena menggunakan bahasa Sunda saat rapat. Sikap tersebut dianggap menyinggung perasaan orang Sunda.
Disampaikan Rachmat Iskandar, untuk mengatasi kejadian atau kealfaan seorang ASN itu dilakukan lewat metoda pembinaan berjenjang dan bertahap. Dilakukan melalui metoda pembinaan, peringatan dan baru sanksi manakala dua hal sebelumnya tidak diindahkan, terkecuali ada perbuatan tercela seperti korupsi.
Di ASN berlaku sanksi tertinggi apabila diputuskan oleh pengadilan dengan putusan diberhentikan atau oleh majelis kode etik pada lembaga yang bersangkutan.
“Kedua soal bahasa, harus dimaklumi bahwa bahasa itu adalah alat komunikasi antar manusia dalam membangun hubungan sosial. Jadi, bagaimana manusia berkomunikasi dengan manusia lainnya ada pranata atau pengaturan baik yang bersifat formal maupun tidak formal. Jadi penggunaan bahasa itu dipengarughi oleh prakondisi. Kenapa, kalau jaksa tidak boleh sementara presiden boleh menggunakan bahasa daerah,” ungkap Rachmat Iskandar yang akrab disapa Rais.
Dia mencontohkan Presiden Suharto dengan bahasa jawanya selalu berjata “mundung duwur mendem jero” “lengser kapabron mandeg pandito”. Juga bahasa daerah sempat disampaikan Tris Sutrisno saat menjadi Wakil Presiden yang mengatakan “Orang Indonesia menang tanpa ngasorake”.
Contoh lainnya dikatakan Aang Kunaefi yang menyebutkan “silih asah, silih asih, silih asuh” dan “batur sakasur” malah apa yang disampaikannya dipake menjadi filsafat, bahkan di masukan dalam renstra.
Demikian juga Solihin GP dengan Rakgantang (Gerakan Gandrung Tatangkalan) itu masuk pada Rentstra saat itu.
“Jadi kenapa jaksa tidak boleh, ari presiden boleh dan presiden toh tidak dihukum ,” ungkap Rais.
Jadi menurutnya, Ateria sangat tendensius yang mengatakan bicara di forum tidak boleh pakai bahasa daerah dan jadi kesalahan besar. Karena itu kelihatannya tendensinya Ateria Dahlan ini ingin mengadudombakan orang Sunda atau ingin memancing kemarahan orang Sunda.
“Menurut hemat saya, kenapa Ateria Dahlan ini tidak mengatakan, tolong dibina supaya bicara di forum pakai bahasa Indonesia, tinggal begitu. Kalau dia tetap begitu, dia berarti menghina orang sunda,” kata Rais.
Budayawan lainnya Kijoen mengatakan, adanya kecenderungan orang menggunakan bahasa daerah harusnya diapresiasi.
“Bahasa daerah lebih pada pemahaman bahasa ibu. Kalau bentuk apresiasinya adalah memberi pengertian, tentunya bahasa ibu tidak lahir untuk mencelakakan orang yang menggunakannya,” ungkap Kijoen.(Tati/KC)