Tenggelam di Sungai, Anak Pintar SDN Kalijaga Ini Pergi untuk Selamanya

0
112
KORBAN saat dievakuasi dari Sungai Pamengkang Kecamatan Mundu, Senin (17/1/2022).*

HAJRAMUKTI, (KC).-

Siapa sangka, anak yang dikenal pintar dan berprestasi ini pergi begitu cepat. Ia menghembuskan nafas terakhirnya saat bermain di sungai lalu tenggelam di Sungai Pamengkang (ada yang menyebut Sungai Cikalong dan ada juga yang menyebut Sungai Biawak), Kecamatan Mundu, Senin (17/1/2022), sekira pukul 14.00 WIB.

Anak tersebut adalah Almizar Ghifari Abiayakta (11 tahun), siswa SDN Kalijaga Kelurahan Kalijaga Kecamatan Harjamukti Kota Cirebon, putra pasangan Arief Gunawan dan Retno, warga RT 11 RW 13 Taman Kalijaga Permai Kelurahan Kalijaga. Ghifari diduga tidak bisa berenang dan terseret arus deras sungai setempat.

Informasi yang dihimpun KC menyebutkan, Ghifari bersama teman-temannya berjumlah 8 orang bermain ke pinggiran Sungai Pamengkang. Hanya dua orang temannya memilih tidak ikut dan pulang. Sementara enam lainnya ikut bermain di sungai tersebut.

Saat itulah enam orang tersebut bermain di tepian sungai. Ghifari ketika itu turun ke sungai sambil dipegangi bambu oleh teman lainnya. Pada mulanya ketika itu tidak terjadi apa-apa sampai kemudian Ghifari tenggelam dan tidak muncul-muncul. Ghifari diduga terseret arus sungai yang tiba-tiba deras.

Melihat Ghifari tidak muncul-muncul, teman-temannya panik lalu minta pertolongan kepada warga setempat. Oleh warga setempat sempat dilakukan pencarian dan teman lainnya memberitahukan kepada orang tuanya.  

Orang tua yang diantar ketua RT 11 Zubaedi kemudian mendatangi lokasi. Zubaedi kemudian menghubungi Babinkamtibnas dan Babinsa kelurahan setempat untuk melaporkan kejadian tersebut. Selanjutnya pada sekira pukul 14.00. WIB dilakukan  pencarian dan korban ditemukan dalam keadaan tidak bernafas. Jenasah lalu dibawa Tim Inavis Polres Cirebon Kota ke RS Gunung Jati Cirebon.

“Jasad korban ditemukan sekira 50 meteran dari lokasi berenang. Menurut keterangan yang diperoleh dari petugas, sebenarnya lokasi sungai tersebut tidak begitu dalam. Hanya di situ ada pusaran air,” ujar Zubaedi yang menirukan ucapan salah seorang petugas tim SAR.

Baca Juga  Raperda PBG Segera Ditetapkan Jadi Perda

Zubaedi yang ditemui di rumah duka menjelaskan, sepulang sekolah Ghifari dan teman-temannya bermain di Sungai Pamengkang. Bahkan sebelum insiden yang merenggut nyawa Ghifari, yang bersangkutan sempat naik dari sungai kemudian minta minum. Setelah itu bermain lagi di sungai. “Ketika itulah Ghifari tenggelam dan terseret arus sungai,” jelas Zubaedi.

Zubaedi menambahkan, Ghifari dikenal sebagai anak yang pintar dan rajin ke masjid. Bahkan pada Senin paginya, ia sempat mendapat piala sebagai juara karate saat upacara di sekolahnya.

“Ghifari saya lihat anaknya pintar dan rajin ke masjid. Saya sering melihat dia salat berjamaah di masjid bersama bapaknya. Tapi Allah Swt telah memanggilnya. Semoga keluarganya tabah dan tawakal. Mungkin ini ujian dari Allah Swt,” imbuh Zubaedi.

Cerita ini dibenarkan Hafian, rekannya yang ikut bermain di sungai. Hafian menceritakan, sebelum Ghifari tenggelam pada mulanya teman-teman lainnya mengira itu bohongan. Tapi setelah ditunggu sekian lami teman-temannya mulai kebingungan dan panik. Kemudian teman-temannya ada yang meminta pertolongan ke warga sekitar dan ada juga yang melaporkan kepada orang tuanya.

“Awalnya dikira Chifari main tenggelam-tenggelaman. Tapi kok agak lama gak nongol-nongol. Jadi teman-teman pada takut,” tutur dia.

Kepergian Ghifari meninggalkan duga mendalam bagi keluarga, tetangga dan keluarga SDN Kalijaga. Karena anak yang dikenal pintar ini pergi untuk selamanya.(Fik)