Perempuan, Ujung Tombak Terdepan di Era New Normal

0
173
Retno Kuntjorowati (Ketua PD Aisyiyah Kota Cirebon)

Penulis: Retno Kuntjorowati
(Ketua PD Aisyiyah Kota Cirebon)

“Ibu, jasamu tidak terbendung dan tidak terhitung”, sebuah ungkapan yang menggambarkan kasih sayang ibu yang abadi sepanjang hari. Tanggal 22 Desember 2021 merupakan peringatan Hari Ibu Nasional yang ke 62. Hari Ibu Nasional diperingati setiap tahun oleh sekolah-sekolah, instansi dan komunitas-komunitas secara serempak di seluruh wilayah Indonesia. Momen tersebut pada umumnya digunakan untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada para ibu sebagai bentuk apresiasi atas jasa dan pengorbanan ibu dalam merawat keluarganya. Selain itu juga dapat dijadikan momen untuk memberi penghargaan kepada perempuan yang berprestasi atau berjasa untuk masyarakat dan bangsa. Tema Hari Ibu Nasional tahun 2021 adalah: Perempuan Berdaya Indonesia Tangguh, sedangkan untuk pelaksanaan kegiatan peringatan di masing-masing tempat tema tersebut dapat dikembangkan menjadi sub tema sesuai kebutuhan.

Perempuan pejuang tangguh bangsa
Embryo Hari Ibu Nasional bermula dari Kongres Perempuan Indonesia I yang diselenggarakan di Yogyakarta tahun 1928 diikuti oleh wakil organisasi perempuan di Indonesia. Pembahasan meliputi di antaranya peran perempuan dalam perjuangan kemerdekaan, perbaikan gizi serta kesehatan ibu dan anak, pernikahan dini untuk perempuan, dan peran perempuan yang waktu dianggap sebagai konco wingking (hanya teman di belakang). Salah satu hasil kongres adalah dibentuknya badan Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Berlanjut dengan Kongres Perempuan Indonesia II yang dilaksanakann di Jakarta pada tahun 1935, yang menetapkan fungsi perempuan Indonesia sebagai ibu yang wajib mendidik anak-anaknya sebagai generasi penerus yang menyadari dan memiliki rasa kebangsaan. Berujung pada Kongres Perempuan Indonesia III tahun 1928 di Bandung dan menghasilkan keputusan bahwa tanggal 22 Desember setiap tahun diperingati sebagai Hari Ibu Nasional, yang kemudian ditetapkan oleh Presiden Soekarno pada Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959, tentang hari-hari besar nasional yang bukan hari lbur.
Peringatan Hari Ibu bertujuan agar masyarakat terutama generasi muda memahami makna dan nilai yang terkandung di dalamnya. Selain itu juga untuk menghargai perjuangan perempuan Indonesia dalam mengisi kemerdekaan. Momentum Hari Ibu menunjukkan langkah panjang yang telah ditempuh para ibu untuk mewujudkan peranannya dalam berbangsa dan bernegara. Saat ini kita dapat melihat dengan peran ibu secara nyata mulai dari dalam lingkup terkecil yaitu rumah tangga sampai lingkungan yang paling luas di masyarakat, para ibu melangkah dengan pasti melaksanakan tugas profesinya. Semangat berperan dalam kedudukannya di masyarakat menunjukkan semangat nasionalisme yang mencirikan ibu sebagai perempuan berdaya.

Baca Juga  Hindari Perbuatan Tercela

Perempuan Indonesia di masa Pandemi Covid-19
Pandemi Covid-19 di Indonesia telah mengubah tatanan hidup di segala bidang diantaranya ekonomi, kesehatan, pendidikan dan pola hidup. Mau tidak mau kita harus mengikutinya. Dalam hal ini peran ibu menjadi sangat penting dan bertambah dari tugas keseharian dibandingkan sebelum pandemi. Penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau lebih popular dengan istilah ‘belajar daring’ (belajar dalam jaringan), mengharuskan orang tua terutama ibu untuk membantu serta mendampingi proses pembelajaran di rumah. Disini ibu terutama, menjadi berfungsi ganda, sebagai orang tua dan sebagai guru. Hal tersebut adalah tidak mudah. Harus ada kerjasama yang baik dan efektif antara orang tua dan pihak sekolah. Belum lagi jika ibu bekerja, maka dituntut ketrampilan ibu untuk membagi waktu dan konsentrasi dalam menjalankan tugas pekerjaan, mengurus rumah tangga, dan mendampingi anak-anaknya dalam proses pembelajaran di rumah.
Banyak keluarga Indonesia yang terkena dampak masa pandemi di luar dampak Kesehatan, dan yang paling dirasakan oleh para ibu adalah dampak ekonomi dan sosial. Banyaknya tenaga kerja yang dirumahkan dan transaksi ekonom yang tidak berjalanan, mengakibatkan derita rumah tangga terutama kelompok ekonomi menengah ke bawah yang sangat dirasakan oleh para ibu. Bantuan Pemerintah yang disalurkan kepada masyarakat selama masa pandemi berupa bahan makanan dan/atau uang tunai sangat membantu para pengelola rumah tangga yaitu ibu, untuk dapat merawat keluarga dalam kondisi apapun. Maka sudah selayaknya pada momen peringatan Hari Ibu keluarga dan masyarakat merenung sejenak untuk mengingat betapa besar perjuangan para ibu untuk merawat keluarganya dengan segenap kasih sayang yang tidak terbatas.

Tetap bersemangat untuk menjadi bermakna
Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK) semula merupakan salah satu mata pelajaran di sekolah (tahun 1961). Kemudian mulai tahun 1967 dimasyarakatkan berawal dari kepedulian istri gubernur Jawa Tengah yaitu Ibu Isriati Moenadi (dikenal sebagai pendiri PKK) yang tergerak hatinya melihat keadaan masyarakat yang menderita busung lapar waktu itu. Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dibentuk tim penggerak PKK di semua tingkatan. Anggota tim terdiri dari relawan, tokoh masyarakat dan istri kepala daerah sampai dengan tingkat desa. Kegiatannya didukung oleh anggaran pendapatan dan belanja daerah. Pada tahun 1967 berdasarkan Surat Kawat dari Mendagri nomor Sus 3/6/12 yang ditujukan kepada gubernur Jawa Tengah dan tembusannya kepada semua gubernur di Indonesia, bahwa nama PKK adalah kependekan dari Pembinaan Kesejahteraan Keluarga. Seiring berjalannya waktu mulai tahun 2000 namanya berganti lagi menjadi Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) sampai sekarang.
Peran kader PKK di tingkat rukun tetangga (RT) dan tingkat rukun warga (RW) sangatlah penting karena langsung menjangkau personal warga. Para kader ini dapat disebut sebagai ‘ujung tombak’ kampung. Para kader PKK yang notabene para ibu dan didominasi para ibu yang tidak bekerja formal adalah sangat luar biasa. Sebelum pandemi kegiatan yang merpakan implementasi dari “10 Program Pokok PKK” menjangkau hampir semua aspek kondisi masyarakat dan dilaksanakan secara rutine. Para kader bekerja secara sukarela mengawal kemajuan kampungnya di antaranya untuk bidang kesehatan (Posyandu/Posbindu), kerohanian (majelis ta’lim), ekonomi (koperasi, pelatihan-pelatihan), dan pendidikan. Pada masa pandemi Covid-19 di samping menurus rumah tangga juga membantu menangani distribusi bantuan untuk keluarga yang menjalani isolasi di rumahnya karena terpapar virus Corona. Kegiatan Posyandu/ Posbindu yang biasanya dilaksanakan terpusat, tetap dilaksanakan dengan kunjungan ke rumah balita atau warga sasaran program. Hal tersebut dilaksanakan agar di masa pandemi kesehatan balita dan warga tetap termonitor degan baik.
Pandemi Covid-19 yang telah melumpuhkan berbagai sektor di Indonesia dan berujung pada kehidupan nomal baru (new normal) dampaknya sangat dirasakan oleh semua warga masyarakat. Perempuan Indonesia baik yang bekerja formal, bekerja non formal, dan ibu rumah tangga yang tidak bekerja tetap bersemangat mengawal keluarga dan masyarakat dengan segala kemampuan dan semangat yang tidak pernah surut. Semoga momen peringatan Hari Ibu tahun ini menjadikan kita lebih dapat memahami kemudian menghargai perjuangan kaum ibu untuk keluarga maupun bangsa tercinta. Langkah perjuangan ibu semata-mata adalah untuk kemajuan putra-putrinya agar menjadi generasi penerus yang sanggup membawa bangsa menuju negeri yang baldatun thoyibatun warobun Ghofur. Aamiin. Selamat Hari Ibu Nasional tahun 2021. ***

Baca Juga  Menyelaraskan Perilaku Anak di Masa Pandemi

Potongan Palagraf:
Peringatan Hari Ibu bertujuan agar masyarakat terutama generasi muda memahami makna dan nilai yang terkandung di dalamnya. Selain itu juga untuk menghargai perjuangan perempuan Indonesia dalam mengisi kemerdekaan.