Kang Farihin yang Saya Kenal

0
207

Hana nguni hana mangke

Tan hana nguni tan hana manke

Ada dahulu ada sekarang

Bila tidak ada dahulu maka tidak ada sekarang

Pesan inilah yang sering disampaikan Farihin Nurgiri S.Hum atau biasa dikenal dengan kang Farihin, seorang sejarawan Cirebon. Saya mengenalnya sejak lama, tepatnya ketika saya masuk kuliah di Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam.

Bagi para mahasiswa atau kalangan akademisi, nama Farihin sudah tidak asing lagi dalam dunia intelektual , walaupun usianya terbilang masih cukup muda, tetapi ia sering mengisi berbagai macam diskusi, dialog dan seminar yang ada di kampus atau sekitar wilayah Cirebon, dengan kapasitas intelektualnya serta gaya retorika yang penyampaianya membuat orang tidak bosan untuk mendengar dan mencerna segala penuturan tentang sejarah yang disampaikan.

Selalu ada hal baru tentang sejarah yang Kang Farihin sampaikan ketika ia sedang berbicara mengenai sejarah, pantaslah banyak orang yang menyebutkan ia sebagai seorang sejarawan.

Sebutan sejarawan ini tentu tidak ia dapatkan dengan begitu saja, apalagi mengklaim dirinya sendiri sebagai sejarawan, saya kira tidak sesederhana itu, selama saya mengikuti berbagai macam forum yang dirinya merupakan narasumbernya, ia tidak pernah mengatakan bahwa dirinya merupakan sejarawan walaupun di situ tertera jelas bahwa ia datang ke tempat tersebut sebagai sejarawan, sebutan sejarawan ia dapatkan dari orang lain bukan dari dirinya sendiri.

Sehingga sangat lucu ketika ada orang yang mengatakan bahwa Kang Farihin mengklaim dirinya sendiri sebagai seorang sejarawan dan secara bersamaan mengajak untuk memboikotnya sebagai seorang sejarawan.

Kita lihat dalam buku seorang sejarawan bernama Kuntowijoyo yang berjudul Pengantar Ilmu Sejarah yang membagi tiga jenis golongan sejarawan yaitu sejarawan profesional, sejarawan disiplin lain, dan sejarawan dari masyarakat. Kemudian, melihat track record dari Kang Farihin yang merupakan seorang lulusan terbaik dari jurusan Sejarah Kebudayaan Islam serta sudah menghasilkan karya yaitu sebuah buku yang berjudul “Jaringan Ulama Cirebon, Keraton, Pesantren,Tarekat” yang pernah dibedah di beberapa forum diskusi.

Baca Juga  8.629 Honorer Terancam Menganggur

Saya kira jika merujuk istilah sejarawan yang disebutkan dalam buku Kuntowijoyo tersebut tentu sandangan sejarawan profesional sudah sangat layak disematkan kepada Kang Farihin, karena sudah jelas ia memiliki kapasitas seorang sejarawan yang menggunakan metodelogi yang jelas dan dapat dipertanggung jawabkan.

Dalam soal urusan pengabdian dan pengembangan keilmuan sejarah, Kang Farihin sudah melakukan banyak hal, sampai sekarang ia masih mengabdi sebagai seorang Pustakawan Keraton Kanoman, aktif dalam kajian rutin yang diadakan bersama para budayawan seperti ngaji sejarah atau jirah yang dilaksanakan setiap Rabu malam di latar Wingking Griya Kang Huri tepatnya di Jalan Pesalakan Sumber Cirebon, tadarus sejarah yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam bersama Keraton Kanoman, serta beberapa kajian rutin lainnya.

Ia juga aktif dalam pelestarian benda benda bersejarah, kemudian menginasiasi upaya untuk melestarikan naskah yang dikumpulkan lewat digitalisasi naskah, yang kebetulan pada saat itu saya sendiri terlibat di dalamnya, dan sekarang naskah yang telah dikumpulkan oleh kang Farihin sudah terdigitalisaskan dan bisa di akses untuk umum lewat laman web www.himskiiainsnj.com. Ia juga sering terlibat dalam berbagai macam upaya advokasi dan meneliti tempat tempat yang memiliki nilai nilai historis.

Kang Farihin melakukan berbagai macam hal yang disebutkan di atas dengan tanpa pamrih, dengan posisi ia sekarang tidak membuatnya menjadi seorang yang sombong atau jumawa, ia masih mau untuk bertemu dan berdiskusi dengan junior juniornya di almamaternya, bergaul dengan berbagai macam kalangan tanpa membedakan status atau posisinya, masih mau menjawab berbagai macam pertanyaan yang telah ditanyakan secara berulang ulang dengan antusias, tidak memandang rendah siapa pun walapun tidak sependapat dengannya.

Baca Juga  Tahun Baru ,Tahun Harapan

Mungkin baginya pengetahuan harus seperti udara yang harus dibagikan secara gratis dan cuma cuma, walaupun ia mendapatkan pengetahuan tersebut dengan perjuangan yang tidak mudah, teguh pada prinsip dan juga berani. Jika Soek Ho Gie mengambil jalan idealisme mahasiswanya maka Kang Farihin teguh dengan idealisme kesejarahannya, karena seperti kata Gie “ Lebih baik diasingkan dari pada berkompromi dengan kemunafikan”.

Penulis : Fahmi labibinajib, Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam (HIMSKI) IAIN Syekh Nurjati Cirebon