Fenomena Lingkungan Bisa Menjadi Ancaman Keamanan Nasional

12
Wali Kota Cirebon, H Nashrudin Azis .* Ist/KC

CIREBON, (KC Online).-

Pemerintah Daerah (Pemda) Kota Cirebon telah melakukan berbagai upaya penanggulangan dampak perubahan iklim. Hal itu diungkapkan Wali Kota Cirebon, H Nashrudin Azis saat menerima Dewan Ketahanan Nasional (Wantannas) Republik Indonesia (RI) di ruang Kanigaran, Balai Kota Cirebon.

Menurut Azis, kunjungan dewan ketahanan nasional yang dipimpin oleh Mayjen TNI Hatta ini berkah buat Kota Cirebon

“Dengan kunjungan ini Pemda Kota Cirebon bisa mendapatkan banyak masukan untuk penanggulangan perubahan iklim. Permasalahan yang terjadi di Kota Cirebon bisa didengar langsung oleh mereka, sehingga bisa langsung disampaikan kepada Pemerintah Pusat,” kata Azis, Kamis (25/11/2021).

Pada kesempatan itu Azis juga menjelaskan, sudah banyak yang dilakukan Pemda Kota Cirebon dalam bidang lingkungan hidup, dari sampah hingga perubahan iklim. Saat ini, penerimaan hibah pengolahan sampah dari Pemerintah Jerman juga tengah berproses.

Sementara itu  Mayjen TNI Moh Hatta Usmar Rukka, Deputi Bidang sistem Nasional Dewan Ketahanan Nasional  (Wantannas) menjelaskan, kunjungan kerja mereka menyisir 3 daerah di Pantura. Masing-masing Kota Cirebon, Pekalongan dan Demak. Tujuannya untuk mendapatkan data dan fakta di lapangan.

Selanjutnya data tersebut akan dibahas dalam sidang untuk merancang strategi nasional.

“Fenomena lingkungan hidup saat ini luar biasa, bahkan bisa menjadi ancaman faktual terhadap keamanan nasional. Jika tidak segera ditanggulangi maka berdampak pada ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” kata Hatta.

Untuk itu, lanjut Hatta, mereka turun langsung ke lapangan selama dua hari. Hal itu dinilai membuktikan kehadiran negara di tengah-tengah masyarakat. Kedatangan mereka di antaranya untuk melihat manajemen pengolahan sampah dan penanggulangan lingkungan hidup yang sudah dilakukan di Kota Cirebon.

Kota Cirebon memiliki visi “Sehati kita wujudkan Kota Cirebon sebagai kota kreatif berbasis budaya dan sejarah”. Pembangunan di bidang lingkungan  hidup masuk pada misi ketiga yaitu meningkatkan kualitas pelayanan, sarana dan prasarana umum berwawasan lingkungan. Misi ini diemban oleh Dinas Lingkungan Hidup.

Ada pun upaya terkait pengendalian dampak perubahan iklim dan sampah yang dilakukan di antaranya program kampung iklim (proklim) yang sudah dilakukan di 14 RW. Proklim ini juga sudah diarahkan ke semua RW di Kota Cirebon. Melalui program dari Kementerian Lingkungan Hidup ini RW 08 Merbabu Asih, Kelurahan Larangan menjadi satu-satunya daerah yang mendapatkan tropi proklim lestari pada 2018 lalu.

Untuk program pelayanan persampahan dan kebersihan, Kota Cirebon di antaranya memiliki tempat pembuangan akhir (TPA) Kopiluhur dengan luas 4,2 hektare, tempat pembuangan sampah sementara yang aktif sebanyak 17 unit serta TPS mobile sebanyak 2 unit. Untuk mengurangi volume sampah langsung dari sumbernya, Kota Cirebon sudah memiliki 25 unit bank sampah serta pusat daur ulang di Dukuh Semar dengan kapasitas 5 ton perhari.

Sedangkan aksi adaptasi perubahan iklim penanganan longsor dan banjir telah dibuatkan lubang biopori sebanyak 310 titik dan sumur resapan di 27 titik. Penampungan air hujan (PAH) juga telah dibuat beberapa warga lengkap dengan sumur penampungnya. Di kawasan pesisir telah dilakukan penanaman mangrove hingga memisahkan sampah organik dan non organik di kawasan pesisir Kota Cirebon.(Iskandar)