Selama 6 Bulan Sudah 31 Kali Banjir Bandang

13
ILSUTRASI banjir.* Dok/KC

CIREBON, (KC Online).-

Banjir bandang yang kerap terjadi di Desa Gunungsari Kecamatan Waled Kabupaten, membuat warga resah. Bukan hanya resah, mereka juga marah karena belum ada tindakan berarti untuk mencegah banjir. Oleh karena itu, mereka mengancam akan berunjuk rasa di Kantor Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung (BBWSCC).

Menurut tokoh pemuda setempat, Muhtoni, banjir bandang yang terjadi dalam kurun waktu enam bulan sudah terjadi sebanyak 31 kali, termasuk Senin malam kemarin. “Sejak penghujan 2020 dan tahun ini, 31 kali banjir terjadi dengan skala besar dan kecil. Untuk skala besar, tiga tahun yang lalu,” katanya, Rabu (24/11/2021).

Pria yang biasa dipanggil Toni ini menceritakan, banjir bandang yang terjadi Senin malam tak hanya menggenangi jalanan tapi masuk ke rumah penduduk. “Saat tengah malam, kebanyakan orang sedang terlelap tidur, tapi bagi warga desa ini terjaga khawatir banjir dan kejadian banjir bandang yang dua hari lalu (Senin) sekitar pukul 23.00 WIB mengakibatkan 31 rumah yang terendam, khususnya di Dusun I,” jelasnya.

Dikatakan Toni, penanganan banjir yang terkesan belum ada realisasi membuat warga geram dan direncanakan akan mendatangi Kantor BBWSCC supaya ada normalisasi Sungai Ciberes dan pembangunan tanggul di sungai tersebut.

“Kami segera koordinasi dengan warga lainnya, termasuk pihak desa mengenai unjuk rasa yang akan dilaksanakan. Bayangkan, kurun waktu enam bulan sudah 31 kali kami diterjang banjir bandang,” sebutnya.

Pihaknya mengharapkan pihak terkait mencari solusi untuk pencegahan banjir. “Sekitar tahun lalu, ketika banjir bandang terjadi, masyarakat datang ke kecamatan untuk penanganan, namun buka kewenangannya. Lalu, pada siapa kami mengeluhkan banjir? Padahal hampir setiap tahun terjadi,” keluhnya.

Sementara itu, Sekretaris Desa (Sekdes) Gunungsari, Aris Suherman mengungkapkan, warga sudah geram pada pihak terkait yang belum ada langkah pencegahan banjir. “Saat ini pihak desa masih bisa membendung keinginan warga untuk unjuk rasa, tapi bila terus seperti ini (banjir), besar kemungkinan akan terjadi (unjuk rasa). Memang, tidak sedikit anggaran yang diperlukan, tapi bila bertahap dilakukan normalisasi, banjir dapat diminimalisasi,” ungkapnya.

Pria yang biasa dipanggil Aris ini memaparkan, pihak desa telah berupaya maksimal untuk pencegahan banjir. Namun hingga sekarang belum ada realisasi. “Kalau ada dinas terkait datang ke balai desa, akan kami datangkan masyarakat supaya dialog langsung. Sebab, pihak desa hanya sebatas melaporkan dan kewenangan ada di dinas terkait,” paparnya.

Dirinya mengharapkan adanya solusi dalam penanganan banjir. “Sekitar 21 Kepala Keluarga yang terdampak banjir saat terjadi Senin malam. Bukan kami tak perlu bantuan, namun perhatian yang serius dari pihak terkait untuk penanganan banjir. Karena hampir setiap tahun terjadi dan bila perlu dari hulu di bagian Bendung Ambit dinormalisasi serta perbaikan pintu air di Bendung Kemplang,” pungkas Aris.

Sekadar informasi, Senin (22/11/2021) sekitar pukul 23.00 WIB, banjir bandang menerjang desa setempat dengan ketinggian bervariasi. Meski tak ada korban jiwa dan harta benda, membuat aktivitas masyarakat dan pengguna jalan terganggu.(Supra)