Menikmati Keindahan Alam, Ketua MUI Bernostalgia di Kampung Pakarden

18
Emsul/KC KETUA MUI Kabupaten Kuningan, KH Dodo Syarif Hidayatullah (kiri) bersama anggota keluarganya di Kampung Pakarden Desa Kertayasa Kecamatan Sindangagung, melihat tanaman dalam kantong plastik berjejer di pekarangan atas gagasan Ketua TP PKK Kabupaten Kuningan, Hj Ika Purnama.*

KUNINGAN, (KC Online).-

Kampung Pakarden Desa Kertayasa Kecamatan Sindangagung, yang jaraknya agak jauh dari pusat desa setempat, namun tetap mampu membangkitkan nostalgia bagi Ketua MUI Kabupaten Kuningan KH Dodo Syarif Hidayatullah.

Panorama indah dan alami Kampung Pakarden yang dikelilingi pesawahan, pepohonan kelapa, bambu, jengkol dan pohon lainnya yang berukuran besar dan berumur ratusan tahun, dengan latar belakang Gunung Ciremai di sebelah barat, sangat memukau dan membuat decak kagum. Sehingga pantas kalau kepala desanya bercita-cita menjadikannya sebagai obyek wisata alam pertanian.

“Ketika saya tanya sarana bajak sawah, ternyata para petani sudah tidak memakai lagi jasa kerbau, mereka sudah beralih ke jasa traktor. Nah, ini harus jadi pemikiran bagaimana jasa kerbau bisa digunakan lagi untuk bajak sawah, tentu harus ada sponsor pendanaan, mengingat biayanya cukup besar,” kata KH Dodo Syarif Hidayatullah, Senin (11/10/2021).

Ia menyebutkan, dulu di kampung itu  banyak burung bangau bertengger di pohon bambu. Namun kini sudah tidak terlihat lagi koloni bangau yang meramaikan lingkungan tersebut. Kecuali  hanya beberapa ekor  yang masih tersisa dan kerap hinggap di pesawahan maupun di atas dahan.

Warga Pakarden sangat menyayangkan punahnya koloni burung bangau di lingkungannya. Akibat perburuan liar oleh orang luar daerah. Padahal dulu koloni bangau jadi ikon Pakarden.

Jika memungkinkan, Pakarden bisa dijadikan kawasan pelepasan liar burung bangau dari daerah lain yang masih banyak jenis burung tersebut. 

“Dulu di masa kecil saya kerap dibawa ke kampung ini oleh ayah, untuk bersilaturahim dengan keluarga dari keturunan kakek. Lebih dari itu salah seorang di antaranya menjadi isteri kedua ayah saya, Ibu Hj. Sukriyah, yang kini telah wafat pada tujuh hari yang lalu dengan meninggalkan dua anak, putra dan putri. Almarhumah wafat di usia 85 tahun saat ruku di rakaat kedua salat Maghrib. Sungguh wafat yang indah, almarhumah dijemput malaikat maut sat sedang salat. Uniknya ibu kandungku juga wafat dalam posisi sedang salat. Insya Allah keduanya husnul khotimah,” tuturnya.

Ia mengatakan, sempat  bermalam di rumah duka. Sungguh nikmat, tidur berjejer di atas hamparan kasur dan karpet yang digelar di tengah rumah. Sebelum tidur semua terlibat obrolan ngalor ngidul, saling menghibur dan melepas rindu. Akhirnya waktu pun terus berlalu, semua terlelap dalam tidur, dengan suara hembusan angin yang menerpa pepohonan di sekitar rumah terdengar sangat jelas, antar dedaunan pohon kelapa saling beradu dan mengeluarkan aneka bunyi, ada krek ada desis dan lainnya. Tidak kalah ramainya, beradunya antar pohon bambu menambah semarak, ditambah bunyi hewan-hewan sejenis serangga dan kodok membuat suasana semakin hangat dan indah. Tidur pun menjadi nikmat bak diiringi musik dan nyanyian yang indah.

Pagi dinihari,  jam menunjukkan pukul 03:00 WIB ayam-ayam jago peliharaan warga sekitar berbunyi, membangunkan semua yang tidur, seakan mengingatkan mereka untuk berdzikir kepada Sang Kholiq.Selepas salat Subuh berjamaah di masjid  dilanjut dengan aurod tahlilan, pada jam 06:00 pagi, bersama keluarga menuju ke pemakaman almarhumah untuk bertafakur dan berzikir serta berdoa untuk almarhumah dan keluarga yang sudah mendahului.

Dalam perjalanan, menyusuri jalan kampung dan pesawahan, sungguh pemandangannya mempesona. Mata dibuat segar memandang, dengan warna hijau alami pada dedaunan dan tanaman serta panorama yang indah dengan udara yang sejuk. Mengingatkan pada kalimat potongan ayat Alquran “robbanaa maa kholaqta hazaa baathilan, subhanaka fa qinaa ‘azaabannaar”.

Sementara tanaman oncang, jahe, tomat, cabai dan lain-lain yang ditanam di plastik di sepanjang pinggir jalan kampung, merupakan program Bunda Menyapa yang dipelopori oleh Ketua Tim Penggerak PKK Hj Ika Acep Purnama. “Semoga memotivasi dan menginspirasi masyarakat untuk terus menghijaukan alam,” ucapnya.

Kepala Desa Kertayasa, Arif Amarudin, mengungkapkan, Program Bunda Menyapa yang digagas PKK Kabupaten Kuningan sangat menginspirasi dan relevan saat pandemi melanda.Program ini dimulai sejak 2020, dengan Pemerintahan Desa Kertayasa mencanangkan program Sabdarum (Swa Sembada di dalam rumah), yang memanfaatkan pekarangan rumah menjadi ketahanan pangan keluarga.

Menurutnya, pemanfaatan pekarangan dalam konteks ini dikelola melalui pendekatan terpadu berbagai jenis tanaman, ternak dan ikan. Sehingga akan menjamin ketersediaan bahan pangan yang beranekaragam secara terus menerus, untuk pemenuhan gizi keluarga.

“Haturnuhun Uwa Kiai sekaligus guru saya di MAN Cigugur atas silaturahminya, sekaligus bernostalgia mengenang kembali masa kecil dulu main di Kampung Pakarden Desa Kertayasa,” katanya.(Emsul)