Disiapkan Matang, 108 SMP Sukses Gelar ANBK Mandiri

22
Emsul/KC KEPALA Bidang Pembinaan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kunigan, Abidin, didampingi Kepala SMPN 1 Kuningan, H Adang Kusdiana (kanan), memantau pelaksanaan ANBK di sekolah setempat, belum lama ini.*

KUNINGAN, (KC Online).-

Sebanyak 108 SMP di Kabupaten Kuningan dinilai berhasil menggelar Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) mandiri. Sehingga dalam pelaksanaannya dapat berjalan dengan tertib dan lancar.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan, H Uca Somantri melalui Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan SMP, Abidin, Senin (11/10/2021), mengungkapkan, sesuai prosedur operasional standar (POS) penyelenggaraan Assesmen Nasional pada  2021 dari Kemendikbud Ristek,  ANBK sebagai bahan evaluasi yang dilakukan oleh pemerintah untuk pemetaan mutu sistem pendidikan pada tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah, dengan menggunakan  instrument asesmen kompetensi minimum (AKM), survei karakter dan survei lingkungan belajar. 

Untuk AKM lanjutnya, merupakan penilaian kompetensi mendasar yang dilakukan  oleh semua siswa, kepala sekolah, guru dan petugas TU. Terdapat dua kompetensi mendasar yang diukur AKM, yakni literasi membaca dan  literasi matematika (numerasi).

“Kiranya wajar apabila dalam pelaksanaan ANBK ini ada kekurangan, karena ini merupakan  barang baru yang harus kita pahami bersama. Namun demikian, pelaksanaan ANBK SMP di Kabupaten Kuningan dinilai sukses, karena jauh sebelumnya telah dipersiapkan secara matang,” katanya.

Ia mengemukakan,  sebelumnya  AKM sempat disosialisasikan hingga dilakukan simulasi di masing-masing sekolah. Termasuk mempersiapkan kelengkapan alat-alat jaringan komunikasi untuk memperkuat koniksitas ke pusat dan  bekerjasama  dengan Telkom dalam melakukan pelatihan dengan menghadirkan  narasumber dari Kementerian Kominfo serta mendatangkan  tenaga ahli lainnya. Agar dalam pelaksanaan ANBK  secara teknis dapat berjalan dengan lancar sesuai harapan.

Menurutnya, dari hasil pelaksanaan ANBK akan dijadikan databased sebagai rapor mutu pendidikan bagi sekolah. Kemudian hasil AKM  ini akan  tersimpan di Kemendikbud Ristek sebagai bahan pertimbangan, untuk pengambilan kebijakan dalam rangka pemetaan program pembangunan bidang pendidikan sesuai kompetensi sekolah masing-masing.

“Dalam peningkatan mutu pendidikan di masing-masing sekolah, cara penanganannya tentu akan berbeda satu sama lain. Maka dari itu, untuk mendeteksi kekurangan sekolah, akan mudah diketahui bagaimana caranya dalam melakukan diagnosa bagi peningkatan mutu pendidikan di masing-masing sekolah,” tuturnya.

Sementara itu,  kegiatan ANBK yang menjadi pengganti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) ini tidak diikuti oleh seluruh siswa. Namun merupakan perwakilan dari setiap sekolah, hingga jumlahnya  mencapai 45 siswa ditambah 5 siswa cadangan terdiri dari kelas VIII.

Sehingga siswa dan orang tua atau wali murid tidak perlu khawatir dengan pelaksanaan  ANBK. Karena  tidak ada kaitan dengan kenaikan kelas dan  kelulusan siswa.(Emsul)