Menakjubkan, Hasil Karya Seni Ini Berasal dari Tanah Liat

16
PENGUNJUNG pameran tengah memandangi sebuah karya seni instalasi dinding terakota di sebuah tempat pameran yang digelas Jatiwangi art Factori, Selasa (12/10/2021).* Tati/KC

MAJALENGKA,(KC Online).-

Dua remaja terus memandangi sebuah karya seni instalasi dinding terakota yang menggambarkan seorang pragawan yang mengenakan jaket kulit dan sepatu, susunan bentuk baju dan celana serta sepatu yang dikenakan demikian apik.

Lipatan lengan jaker berwarna kecoklatan dan celana nampak sangat jelas seolah bukan sebuah dinding terakota karen susunannya sangat jeli dan rapi. Gambar semakin tampak mewah dengan sinar lampu yang sedikit temaram dan di bagian lainnya lampu-lampu cukup terang.

Di bagian dinding yang bersebelahan ada juga susunan terakota yang menggambarkan sebuah lukisan  abstrak dengan coretan kuas hitam dan dasar putih. Seorang penikmat seni berupaya mengusap dinding terakota tersebut seolah penasaran dengan apa yang dilihatnya.

Karya seni tersebut ada di sebuah tempat pameran seni Terracotta Triennale di Jebor Hall Jatiwangi art Factory (JaF) di Desa Jatisura, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka. Ada banyak karya seni lainnya yang dipamerkan di sana.

Karya-karya seni yang indah dan menakjubkan ini dibuat oleh belasan seniman dari berbagai latar belakang yang berbeda, di antaranya melibatkan seniman besar asal Bandung,Asmudjo J Irianto dan Tisna Sanjaya.

Semua karya seni terbuat dari tanah liat yang biasanya di Majalengka dibuat sebagai bahan bangunan berupa batu bata dan genteng. Kini di tangan para seniman, tanah liat menjadi sebuah karya seni yang bernilai tinggi dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki imajinasi yang kuat dan tinggi, ketelitian serta ketekunan.

Kurator Ismal Muntaha mengatakan, seni instalasi ini akan dipamerkan hingga 11 Desember mendatang. Pada pameran tersebut tidak hanya melibatkan kalangan seniman beberapa di antaranya merupakan kalangan desianer, arsitektur dan lain-lain.

“Jadi kami mengundang seniman, desainer, arsitek untuk sama-sama mengkaji dan menerjemahkan apa sih kota terakota itu,” ungkap Ismal.

Dari kekuatan para seniman yang latar belakangnya berbeda ini menjadi sebuah kekuatan  untuk menghasilkan karya seni yang sempurna, karena mulai meranacang, proses hingga penyelesaian sebuah karya seni.

“Kami semua berupaya mengeskplorasi tanah liat. Ada karya dalam bentuk skema, konsep, bisnis plan dan lain-lain. Skema, konsep itu bisa digunakan ketika ada yang ingin membuat bangunan dengan konsep Terakota,” ungkapnya.

Para seniman ini sudah mulai menggarap karyanya secara bersama-sama sejak  Agustus lalu. Mereka membuat karya seni berkolaborasi dengan warga Jatiwangi yang juga sudah terbiasa membuat barang berbahan tanah liat.

“Sebagaimana halnya sebuah pameran, Terracotta Triennale juga akan diisi dengan workshop dan simposiaun dari para seniman yang karyanya dipamerkan,“ ungkap Ismal

Menurutnya, Terracotta Triennale sendiri merupakan rangkaian dari tahun tanah yang biasa diperingati setiap tuga tahun sekali dan puncaknya selalu diisi dengan rampak genteng, yang tahun ini rencananya akan berlangsung pada 11 November 2021 mendatang.(Tati)