Produksi Keripik Gadung, Jadi Alternatif Usaha di Musim Kemarau  

19
Tati/KC SUHENTI warga Blok Entang, Desa Batujaya, Kecamatan Cigasong, Kabupaten Majalengka, tengah mengupas umbi gadung untuk diproses menjadi keripik, Minggu (19/9/2021).*

MAJALENGKA, (KC Online).-

Musim kemarau panjang membawa berkah bagi perajin keripik gadung di Blok Entang, Desa Batujaya, Kecamatan Cigasong. Karena mereka bisa memproduksi keripik lebih banyak dan aman.

Lebih aman karena bisa menggali gadung untuk dibuat keripik. Sedangkan pada musim hujan gadung tidak bisa diproses. Karena bisa beracun akibat terkena air hujan serta umbi gadung ketika diproses menjadi keripik akan terasa keras.

Warga di wilayah tersebut juga sulit bertani, karena tidak tersedianya air. Kawasan hutan di bukit sebelah selatan pemukiman nampak gundul dan kering kerontang. Lembah di bawah bukit hanya nampak bekas sawah dengan jerami kering.  Kemudian embung yang ada di bukitpun retak-retak cukup lebar dan dalam. Sehingga sebagian besar  warga beralih menjadi perajin bata dan berjualan.

Salah satunya dilakukan Suhenti, yang merupakan satu di antara puluhan warga yang menjadi perajin keripik gadung. Menurutnya   kemarau tahun ini dia bisa menambah penghasilan suaminya dengan menjadi perajin keripik. Dalam sehari dia bisa memproses 10 kg lebih umbi, untuk dibuat keripik dengan harga jual Rp 30.000 per kg (mentah).

Pada pagi hari dia pergi ke bukit untuk mencari gadung di kawasan hutan gundul, yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Tak mencapai dua jam, belasan kilo umbi gadung telah diperolehnya untuk dikupas dan dipotong agar tipisnya rata dan lebih cepat.

Suhenti memprosesnya sendirian, sambil menemani suaminya yang menjadi perajin kusen beton di sebuah tempat dekat rumahnya. Mulai dari mengupas lalu memotong dan melumurinya dengan debu. Setelah itu dijemur kemudian direndam air sambil dicuci bersih dan dikukus serta dijemur kembali.

“Prosesnya lima harian hingga menjadi keripik,” ujarnya.

Ia tidak menyebutkan secara pasti jumlah keripik yang diproduksinya setiap hari. Karena dirinya tidak pernah menghitung jumlah ataupun uang hasil penjualan. “Saya memproduksi dan menjualnya, uangnya untuk kebutuhan anak sekolah serta sehari-hari” ucapnya.

Perajin lainnya Hasti, yang memproduksi keripik  gadung bersama suaminya mengatakan, setiap hari mencari gadung ke hutan dan memprosesnya bersama-sama. Karena kebetulan suaminya yang menjadi petani kini tidak bekerja, karena sawahnya kering.

Ia memproduksi lebih banyak karena dilakukan berdua. Produksi yang dihasilkannya sebagian dijual keliling dan ke pasar tradisional dengan harga Rp 30.000 per kg.

“Ada juga pembeli yang datang ke rumah, sisanya dijual keliling setelah selesai kerja” katanya.

Menurut Hasti dan Suhenti, di kampungnya  banyak ibu rumah tangga yang sama-sama memproduksi kripik gadung, dengan memanfaatkan waktu tidak ada pekerjaan (bertani) di musim kemarau.

“Membuat keripik gadung itu mudah dilakukan dan mudah dijual. Uangnya bisa ditunggu untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Makanya banyak warga di  setiap musim kemarau menjadi perajin keripik gadung,” katanya.(Tati)