Indramayu Kaya Akan Sumber Daya Alam

45

INDRAMAYU, (KC Online).-Pola perilaku masyarakat tidak hanya domain dengan ruang dan waktu saja namun sudah bergeser masuk dalam dunia virtual. Dunia kasat mata (maya), tidak terlihat namun bisa dirasakan dan mengubah cara-cara lama yang dianggap kuno (jadul).

Dalam kondisi seperti itu, mereka yang memiliki cara baru untuk menyelami dunia dan era baru (new era) sekaligus memiliki cara-cara dan teknologi baru yang lebih baik dari sekarang.

“Akan lebih sirvive dan makin maju, makin berlari cepat seperti flash gordon dalam komik impian dan pembangunan teknologinya makin jauh di depan (technology leader),” ujar warga Indramayu yang berposisi di Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Indramayu, H.Imam Mahdi, Rabu (8/9/2021).

Sementara itu, sambung dia, mereka yang enggan bangkit dan tidak memiliki cara-cara untuk memanfaatkan teknologi yang sedang berkembang dan membudaya (cultured), akan semakin tertinggal dan makin sulit menyesuaikan, mengejar mereka yang sudah lebih dulu bangkit, maju dan modern.

Pembangunan mudah diucapkan dan sulit dipraktikkan, ketika masyarakat dan entitas dominan dengan segala potensi yang dimilikinya masih dalam keadaan tidur (sleeping) dan sulit bangun.  Sejarah mencatat bahwa kebangkitan peradaban manusia termasuk di dalamnya ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, 

“Dikonstruksi oleh potensi sumber daya alam sebagai pondasi dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berkembang,” terangnya.

 Meskipun potensi sumber daya alam cukup besar sebagai modal dasar pembangunan (raw material) namun ketika praktiknya bias komoditas unggulan lokal, bias sumber-sumber dana investasi (investor), bias teknologi maka sulit untuk bangun dan impian kesejahteraan masyarakat akan lama bisa diwujudkan (long time realized).

Indramayu sebagai wilayah yang kaya akan sumber daya alam (biodiversity) yang berada dekat dengan zona lintasan zamrud khatulistiwa, memiliki peluang besar untuk menjadi kabupaten yang maju lebih baik di Jawa Barat dan nasional dengan kekayaan sumber-sumber pangan dan non pangan.

Sumber non pangan seperti SDM dan Migas. Tercatat dan terdapat tiga keunggulan sumber pangan seperti produksi ikan terbesar di Jawa Barat, produksi mangga terbesar di Jabar dan Nasional hingga dilabel kota mangga, produksi beras terbesar nasional hingga dilabel kota kecil lumbung pangan.

Sesungguhnya tiga unggulan tersebut memiliki potensi turunan industri yang cukup banyak baik dari sektor hulu (production input), maupun dari sektor hilir (output) kolaborasi, integrasi dan konvergensi dari banyak industry tersebut membentuk kawasan ekonomi yang semakin berkembang.

“Membentuk cluster- cluster ekonomi yang saling membutuhkan, saling mendukung (aglomerasi) guna mencapai posisi yang berkualitas dan keunggulan kompetitif (competitive advantage),” ujarnya. (Ratno)