MENJADI MUSLIM PRODUKTIF

146
H. Imam Nur Suharno, SPd, SPdI, MPdI

Oleh H. Imam Nur Suharno, SPd, SPdI, MPdI
(Kepala Divisi HRD dan Personalia Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat)

TIDAK sedikit orang yang mengaku sebagai muslim sebatas tampilan, atau karena dilahirkan dari kedua orang tua yang muslim, atau karena mengikuti lingkungan yang mayoritas muslim. Tidak cukup seseorang mengaku muslim dengan alasan tersebut. Ada konsekuensi yang harus ada pada diri seseorang agar menjadi seorang muslim sejati (dan produktif). Bukan pengakuan tanpa bukti, dan agar pengakuannya sebagai muslim itu pengakuan yang jujur dan dapat dipertanggung jawabkan. Fathi Yakan dalam bukunya ëKomitmen Muslim Sejatií menjelaskan, agar pengakuan seseorang sebagai muslim itu benar dan dapat dipertanggungjawabkan, maka ada hal yang harus dilakukan sebagai konsekuensi atas pengakuannya.

Pertama, mengislamkan akidah. Pengakuan sebagai muslim yang harus dilakukan adalah mengislamkan akidah. Yaitu: akidahnya harus benar (salimul aqidah) sesuai dengan Alquran dan Sunah. Mengimani apa yang diimani oleh kaum muslimin pertama, salafussaleh dan para imam yang telah diakui kebaikan, kesalehan, ketakwaan, dan pemahaman yang lurus tentang Islam.

Kedua, mengislamkan ibadah. Ibadah merupakan puncak ketundukan dan kesadaran mengenai keagungan Allah. Ibadah sebagai penghubung antara makhluk dengan Sang Pencipta, dan berpengaruh dalam interaksi antar sesama makhluk. Sehingga, dalam diri seseorang akan terinternalisasi dan terimplementasi adanya hablum minallah dan hablum minannas dan hal ini akan terejawantahkan dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Ibadah sebagai tujuan diciptakannya manusia. Hal ini dijelaskan dalam firman-Nya, ìDan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.î (QS adz-Dzariyat [61]: 56).

Ketiga, mengislamkan akhlak. Tujuan utama dalam Islam adalah agar kaum muslimin memiliki akhlak yang mulia. Agar dapat mengislamkan akhlak, konsekuensinya harus menghiasi diri dengan sikap wara (hatiñhati) terhadap syubhat, menahan pandangan, menjaga lidah, malu, pemaaf dan sabar, jujur, rendah hati, menjauhi prasangka, ghibah, dan mencari cela orang lain, dermawan dan pemurah, dan menjadi teladan bagi orang lain. Berkaitan dengan akhlak, Rasulullah SAW bersabda, ìSesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.î (HR Ahmad, Hakim, dan Bukhari).

Keempat, mengislamkan keluarga dan rumah tangga. Tidak cukup menjadi muslim seorang diri, karenanya seorang muslim yang sejati hendaknya dapat mengajak (berdakwah) dan berjuang agar masyarakat yang berada di sekitarnya juga menjadi masyarakat muslim yang sejati. Dan, masyarakat terdekat itu adalah keluarga.
Di sinilah pentingnya pendidikan dalam keluarga, sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT. ìHai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.î (QS at-Tahrim [66]: 6).

Kelima, mengendalikan hawa nafsu. Pergulatan melawan nafsu akan terus terjadi selama menjalani kehidupan. Sebagai seorang muslim hendaknya selalu berjuang untuk mengalahkan hawa nafsu. Karena itu, sungguh beruntung orang yang mau menyucikan jiwanya dan merugi orang yang mengotori dirinya. Jihad yang paling utama adalah jihad melawan hawa nafsu, sebagaimana sabda Nabi SAW, ìJihad yang paling utama adalah seseorang berjihad (berjuang) melawan dirinya dan hawa nafsunya.î (HR Ibnu Najjar).

Menurut Ibnu al-Qayyim, jihad melawan nafsu itu mempunyai empat tingkatan, yaitu berjihad melawan nafsu dengan mempelajari petunjuk dan kebenaran Islam yang menjadi satu-satunya sumber kebahagiaan dan keselamatan jiwa dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Lalu, berjihad melawan nafsu dengan mengamalkan apa yang dipelajari dan apa yang diketahui; berjihad melawan nafsu dengan berdakwah kepada masyarakat berdasarkan ilmu yang dipelajari dan diamalkan dalam semua aspek kehidupan; dan berjihad melawan nafsu dengan bersabar dalam memikul beban dakwah kepada Allah dan menghadapi gangguan dari musuh dakwah.

Menurut Fathi Yakan, ada tiga tipe manusia dalam berjihad melawan nafsu. Yaitu, tipe manusia yang dapat mengalahkan hawa nafsu; manusia yang selalu kalah melawan nafsu, dan manusia yang kadang menang dan kadang kalah melawan nafsu. Termasuk tipe manakah kita?
Ada sepuluh pintu masuk yang dijadikan oleh setan sebagai sarana melalaikan manusia agar selalu kalah melawan nafsu. Yaitu: ambisi dan buruk sangka; kecintaan kepada hidup dan panjang anganñangan; keinginan untuk santai dan bersenangñsenang; bangga diri; sikap meremehkan dan kurang menghargai orang lain; dengki; riya dan keinginan dipuji; kikir; sombong; dan tamak.
Ada sepuluh sarana untuk menutup pintu masuknya setan: sikap percaya dan menerima; rasa takut terhadap datangnya kematian yang tibañtiba; menyadari akan hilangnya nikmat dan keburukan hisab; mengingat karunia dan takut akan akibat yang menimpa; mengenali hak dan kehormatan orang lain; sikap menerima dan rela pemberian dari Allah kepada makhluk-Nya; keikhlasan; sadar akan sirnanya semua yang ada di tangan makhluk dan kekalnya pahala di sisi-Nya; rendah hati; percaya dengan apa yang ada di sisi-Nya; dan zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia.

Keenam, yakin masa depan milik Islam. Islam sebagai agama yang berasal dari Allah menjadikannya lebih layak dan dapat mengatur seluruh aspek kehidupan, mengendalikan dan memimpin umat manusia. Kepercayaan kepada Islam harus mencapai tingkat keyakinan bahwa masa depan adalah benar-benar milik Islam. Ada faktor yang mendorong keyakinan bahwa masa depan adalah milik Islam, antara lain rabbaniyah manhaj Islam; universalitas manhaj Islam; elastisitas manhaj Islam; kelengkapan manhaj Islam; dan keterbatasan sistem wadhíiyah.
Jika seseorang dapat melakukan hal di atas, maka akan menjadi seorang muslim produktif yang siap mendermakan hidup dan matinya hanya untuk Islam, sebagaimana ikrar yang diucap, ìSesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.î (QS al-Aníam [6]: 162). Wallahu aílam. ***