Dalam 10 Hari Angka Meninggal 8 Orang, Bupati Karna Tolak Disebut Zona Merah

18
BUPATI Majalengka, H. Karna Sobahi bersama anggota Satgas Penanganan dan Pencegahan Covid-19 menunjukan data perkembangan kasus Covid di Kabupaten Majalengka,Rabu (12/5/2021). Adanya data yang menyebutkan Kabupaten Majalengka menajadi satu-satunya wilayah dengan zona merah di Pulau Jawa.* Tati/KC

MAJALENGKA, (KC Online).-

Bupati Majalengka menolak wilayahnya dinyatakan sebagai zona merah oleh Satgas Covid-19 tingkat Pusat.l Pelabelan zona merah bagi Kabupaten Majalengka dianggap keliru dengan alasan data terkonfirmasi positif  selama beberapa hari terakhir tidak mengalami lonjakan dan penambahan kasus setiap harinya berjalan landai.

Bupati Majalengka Karna Sobahi menyebutkan pihaknya mempertanyakan adanya laporan data Kabupaten Majalengka menjadi satu-satunya daerah di Pulau Jawa yang berisiko tinggi terhadap penularan Covid-19.

Dengan adanya laporan tersebut bupati mengaku pihaknya langsung mengirim surat kepada Gubernur Jawa Barat yang berisi kajian dilengkapi dengan seluruh data perkembangan kasus, baik kasus terkonfirmasi, probable, suspect hingga angka meninggal dunia akibat positif ataupun probable, serta keterisian ruang isolasi yang dianggap rendah.

“Saya kaget dan bertanya, apa dasarnya Kabupaten Majalengka dinyatakan sebagai zona merah, jawaban yang di atas, katanya kemungkinan ada delay data,” ungkap Bupati Karna Sobahi didampingi Satgas Covid-19 Dandim 0617 Majalengka, Kapolres Majalengka, Sekda dan Kepala Dinas Kesehatan, dan Kepala Pelaksana BPBD.

Kalaupun pernah terjadi lonjakan kasus dan terjadinya kasus klaster keluarga menurut Bupati, itu terjadi pada awal Mei kemarin terjadi di di dua desa, yaitu  Desa Genteng dan Gandu di Kecamatan Dawuan, itu klaster keluarga, wilayah lainnya cenderung stagnan.

“Itu yang menjadi fokus perhatian di sana, mereka OTG dan sekarang sembuh,” ungkapnya.

Kalau melihat data kasus meninggal juga rendah, selama 10 hari angka meninggal 8 orang, yang terkonfirmasi di 337 desa 330 dan 13 kelurahan  80 kasus,   keterisian ruang isolasi dari 77 hanya terpakai 15 yang terisi.

Sementara itu pihak lainnya mengatakan, Kabupaten Majalengka dimungkinkan sebagai zona merah akibat banyaknya warga yang tinggal di luar daerah terkonformasi positif, sehingga data tersebut tidak sama dengan data yang dimiliki oleh Satgas Kabupaten Majalengka.

“Kemungkinannya, warga Majalengka merantau ke luar kota, di perantauan mereka dinyatakan terkonfrmasi. Sehingga Satgas Pusat mencatat itu sebagai warga Majalengka, kemudian datanya dimasukkan ke data sesuai tempat tinggal pasien. Data ini bisa saja tidak tercatat di Satgas  Kabupaten Majalengka namun hanya tercatat di Pusat. Kemungkinan itu yang memyebabkan Kabupaten Majalengka dinyatakan oleh pusat sebagai zona merah,” ungkap salah seorang pejabat.

Pernyataan Bupati menyikapi adanya data Satgas Covid-19 tertanggal 9 Mei 2021 yang menyebutkan 12 kota kabupaten di Indonesia dinyatakan sebagai zona merah salah satunya Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Kota lainnya adalah Pekanbaru dan Kabupaten Rokan Ulu, Riau, Kabupaten Lembata dan Kabupaten Sumba Timur, NTT, Kabyoaten Agam, Tanah Datar, Kabupaten Lima Puluh Kota di Sumatra Barat, Kabupaten Deli Serdang, Umut, Kota Palembang, Dumsel, Kabupaten Batanghari, Jambi serta Kabupaten Tababan, Bali.

Sementara itu berdasarkan data Pikom Kabupaten Majalengka per 15 Mei 2021, jumlah terkonfirmasi mencapai 3.292 kasus, sebanya 199 menjalani isolasi, sebanyak 264 dinyatakan meninggal dan selebihnya dinyatakan sembuh. Kecamatan Dawuan adalah kecamatan dengan kasus tertinggi yang mencapai 35 kasus aktif.

Kasus denga status suspect sebanyak 1.808, sebanyak 208 orang menjalani isolasi, 79 meninggal. Pasien probable yang dinyatakan meninggal sebanyak 79 orang.

Sedangkan Badan Penanggulangan Bencana Alam Daerah Kabupaten Majalengka selama 16 hari sejak 1 Mei hingga 16 Mei 2021 mencatat, terdapat 12 kasus yang dinyatakan meninggal akibat Covid-19, dengan rincian 11 orang positif, dan 1 orang probable asal Bantarujeg.

Sebanyak 3 orang berasal dari Kecamatan Jatiwangi, Satu asal Kecamatan Ligung, 2 asal Kecamatan Panyingkiran, Kecamatan Majalengka, Kadipaten, Talaga, Rajagaluh dan Palasah  masing-masing satu orang. Usia mereka antara 42 tahun hingga 65 tahun, hanya satu orang usianya sudah mencapai 98 tahun.(Tati)