Kendaraan Pribadi Banyak yang Terjaring

22
SEJUMLAH petugas Pos Sekat di perbatasan Majalengka-Sumedang, tepatnya di Kecamatan Kadipaten, tengah melakukan pemeriksaan terhadap pengemudi kendaraan yang melintas dan beberapa diantaranya diputar balik karena tidak bsia menunjukan kelengkapan surat-surat yang menjadi syarat kunjungan, Minggu (9/5/2021) pagi hari.* Tati/KC

MAJALENGKA, (KC Online).-

Selama empat hari efektif pelaksanaan Operasi Ketupat Lodaya di Kabupaten Majalengka, terdapat 2.737 kendaraan luar yang melintas ke wilayah tersebut, baik melalui 11 titik pos penyekatan, sebanyak 647 kendaraan di antaranya diputar balik.

Hal tersebut disampaikan Kasat Lantas Polres Majalengka Ajun Komisaris Polisi Luky Martono ditemui saat melakukan penyekatan di Gerbang Tol Kertajati Minggu (9/5/29021) bersama sejumlah anggota kepolisian lainnya, TNI, Dinas Perhubungan, Sat Pol PP dan petugas kesehatan.

Menurutnya, kendaraan yang diputar balik tersebut kebanyakan adalah kendaraan pribadi, juga bus berukuran besar yang diduga membawa pemudik dari luar kota ke Majalengka. Mereka kebanyakan masuk ke Majalengka pada jam-jam tertentu, pagi hari dan malam hari, sedangkan siang hari relatif sepi.

“Kendaraan yang terjaring ini relatif seimbang, antara jalur arteris maupun Gerbang Tol Kertajati dan Sumberjaya, namun yang terjaring kebanyakan kendaraan pribadi,” ungkap Luky Martono.

Sementara itu, lalu lintas kendaraan dari luar kota yang melintasi gerbang tol ataupun perbatasan tampak sepi, namun penjagaan dilakukan cukup maksimal di GT Tol maupun di rest area 166 Jatiwangi.

Sedangkan di sejumlah wilayah perbatasan seperti antara Indramayu-Jatitujuh, lalu lintas kendaraan tampak sepi. Demikian juga di perbatasan Indramayu-Ligung, di Desa Ampel, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka. Pos penyakatan dilakukan di pertigaan antara Wanasalam-Ligung-Jatiwangi yang dianggap ramai.

Selama lebih dari satu jam berada di pos penyekatan tersebut, tidak ada kendaraan luar kota yang melintas membawa pemudik. Kendaran pribadi dan angkutan umum yang melintas hampir semuanya kendaraan lokal.

Menurut keterangan salah seorang warga yang tingal diperbatasan Majalengka-Indramayu, dari pintu masuk Kecamatan Ligung, Munadi, hampir setiap saat lalu lintas di perbatasan sangat sepi. Yang melintas antar kabupaten adalah warga setempat yang berada diperbatasan dan biasa melakukan komunikasi layaknya masyarakat biasa.

“Masyarakat Indramayu yang berada di perbatasan biasa pergi ke pasar di Sukawera, Ligung sehingga ketika melintasi tapal batas ya dianggap masyarakat biasa,” ungkap Munadi.

Ade Rosito warga Desa Heuleut, Kecamatan Kadipaten dengan bebas keluar masuk wilayah Ciebon, tidak ada penyekatan di kedua wilayah perbatasan, baik dari arah Majalengka maupun Cirebon. Padahal semula dia khawatir untuk bepergian karena penyekatan di Majalengka dilakukan di 11 titik pintu masuk perbatasan.

“Tapi aman selamat, tidak ada hambatan apa pun. Kendaraan lancar tidak ada yang mencegat,” ungkap Ade.(Tati)