FUAD IAIN Cirebon Berupaya Jalin Kerjasama dengan Sejumlah Pihak Luar Negeri

19

CIREBON, (KC Online).-

Dekan Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah (FUAD) IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Dr. Hajam, MAg mengungkapkan, pihaknya tengah melakukan upaya untuk menjalin kerja sama dengan sejumlah pihak di luar negeri.

Menurutnya, hal itu untuk menyesuaikan sembilan standar persyaratan visitasi demi mencapai poin yang unggul. Seperti poin tiga pada syarat capaian, yaitu perlu adanya mahasiswa asing.

“Mahasiswa itu di masing-masing jurusan dan fakultas, tidak hanya FUAD saja ya, tapi juga fakuktas dan jurusan lain. Itu perlu ada mahasiswa asing untuk mencapai poin yang unggul,” kata Hajam di sela-sela rapat kerja FUAD IAIN Syekh Nurjati Cirebon di Grage Hotel, belum lama ini.

Menariknya, kata dia, untuk menarik mahasiswa asing ini, pihaknya pun menghadirkan pihak dari luar negeri dalam rapim tersebut, yaitu dari Afrika, tepatnya dari Republik Madagaskar.

Karena, lanjut dia, tahun 2022 mendatang merupakan tahun visitasi untuk Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Filsafat Agama, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), dan Bahasa dan Sastra Arab (BSA) yang berada di FUAD IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

“Kita ingin bekerjasama dengan beliau untuk menerima mahasiswa asing. Kami juga mengajak beliau untuk tidak hanya mahasiswa FUAD, tapi juga untuk mahasiswa FSEI, FITK, dan Pascasarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Silakan disesuaikan dengan prodi yang dipilih,” paparnya.

Tidak hanya itu, Hajam mengungkapkan, ke depan pihaknya juga akan merangkul sejumlah pihak di Malaysia dan Brunei Darusalam untuk menarik mahasiswa berkuliah di IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

“Kebetulan dosen-dosen kita memiliki jaringan di berbagai negara. Jadi kita manfaatkan untuk menjaring mahasiswa asing,” terangnya.

Sementara itu, Kabag TU FUAD IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Rifqi Muslim menambahkan, kerja sama tersebut dilakukan agar masyarakat Republik Madagaskar berkuliah di Indonesia, yaitu di IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

“Tapi dengan persyaratan-persyaratan tertentu. Karena, bahwa di Madagaskar tersebut, masyarakat muslim itu minoritas, hanya 25 persen saja yang muslim,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Rifqi, kerja sama ini juga terkait kondisi perekonomian masyarakat di Madagaskar yang lebih rendah dibandingkan Indonesia. Sehingga, kata dia, pihaknya harus berani membiayai berbagai kebutuhan selama yang bersangkutan menempuh studi di kampus ini.

“Di Indonesia juga harus bisa membiayai all in, semuanya. Baik dari lifing kosnya, transportasinya, maupun studi kos pendidikannya,” tandas Rifqi.(Fanny)