Ramadan dan Pembentukan Karakter Siswa

50
Atin Apririyanti

Oleh  Atin Apririyanti

(Guru SDN 2 Gembongan, Kecamatan Babakan, Kabupaten Cirebon)

RAMADAN adalah sahru tarbiyyah (bulan pendidikan). Dengan Ramadan, kita dituntut untuk selalu mengedepankan pendidikan dan latihan yang selama ini dilakukan selama satu bulan lamanya. Ramadan pun mendidik setiap orang untuk selalu disiplin, baik untuk dirinya sendiri, maupun orang lain. 

Dalam Ramadan, setiap yang melaksanakannya selalu berdisiplin waktu. Ia tidak akan makan minum sebelum waktunya. Dia tidak akan membicarakan orang lain karena iman kepada Allah Swt. sehingga dapat melahirkan pesan moral.

  Islam sendiri mengandung makna berserah atau pasrah dan sikap serta perilaku demikian hanya dapat ditunjukkan oleh orang dan pendidik yang beriman. Dedikasi dengan pasrah demi pendidikan dan anak didik, demi agama bangsa dan negara, demi ilmu (ukhrowi dan duniawi) karena niat ibadah yang bersumber dari iman yang kuat dan benar. 

  Kebijakan seorang Muslim harus ditunjukkan dengan rendah hati,  membesarkan hati orang yang kurang tahu, penuh persaudaraan dan keguyuban, karena niatnya ialah keselamatan dan perdamaian. Dalam surat Ali-Imran ayat 159, perintah Allah lebih tegas lagi: Maka karena sebab rahmat Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersifat keras dan berhati kasar niscaya mereka menjauh dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka. Dan mohonkanlah ampun untuk mereka dan bermusyawarahlah kamu dengan mereka dalam urusan itu.

Bagi seorang Muslim perbuatan yang baik harus disertai niat karena Allah, ibadat kepada-Nya. Ada sebuah syair yang ditampilkan oleh Imam Sofyan As-Sauri, yang terjemahan bebasnya berbunyi: “Kami mencari ilmu tanpa niat karena Allah, ternyata ilmu itu tidak melekat atau bermanfaat kecuali karena Allah.”

Pesan moral dari puasa yang pertama, mampu mengeluarkan infak dan shadaqah, baik dalam keadaan sempit ataupun lapang. Puasa membina pribadi senang, gemar melakukan infaq dan shadaqah. 

Nabi berpesan, kalau pada satu hari masih mempunyai bekal untuk hari esok, maka ia harus mengeluarkan zakat fitrah. Terus dalam hadits tadi, bahwa shadaqoh yang paling tinggi nilainya adalah shadaqah di bulan ramadan. Itu memberikan dorongan, supaya bisa membina pribadi untuk gemar mengeluarkan infak dan shodaqoh. 

Kedua, mampu menahan emosi dan mengendalikan diri. Nabi berkata, kalau kamu sedang puasa kemudian ada orang yang mengajak bertengkar, maka ia harus mampu mengendalikan diri dan menahan emosi. 

Ketiga, bersedia memaafkan atas dosa dan kesalahan orang lain. Puasa membina pribadi yang mau memaafkan atas dosa dan kesalahan orang lain, walaupun dia tidak minta maaf. 

Menurut ajaran Islam, guru dalam memilih dan mengolah materi pengajaran, harus mentaati ketentuan dan asas-asas. Pertama, memilih dan mengolah materi pengajaran dengan nama Allah dilandasi iman dan niat ibadah. Kedua, semua ilmu adalah ilmu Allah, karenanya tidak mempertentangkan antara materi ukhrowi dan materi duniawi.

  Ketiga, seluruh angkasa raya, planet dan bumi, serta lautan merupakan objek ilmu dan menjadi bahan atau materi pengajaran. Keempat, materi pendidikan harus dikelola dan disajikan secara ikhlas dan tidak boleh ia sembunyikan bagi anak didik dan umatnya. 

  Kelima, ilmu sebagai materi pengajaran dan sebagai hasil ‘membaca’ (belajar, meneliti) tidak boleh dijadikan barang dagangan yang dipasarkan dengan “jual-mahal”. Keenam, tidak diperkenankan memperjual-belikan ayat-ayat suci dan ajaran Rasulullah, apalagi untuk tujuan atau maksud tak terpuji.

Dari penggalian tersebut dapat kita tarik kesimpulan ajaran Islam tentang ekspresi spiritualitas para pelakunya, yaitu iman yang kuat disertai niat ibadah, memberikan suri tauladan yang baik, ucapannya sama dengan perbuatannya, bertanggungjawab dan  berintegritas moral intelektual, tertib, berdisiplin, sabar dan lemah lembut.

Hal ini, hendaknya dijadikan awal bagi kita, paling tidak berniat hati untuk mempelajari serta mencoba mengerti isinya dan kemudian berusaha untuk mengamalkan. Jadi tidak  mungkin kita bisa menjadikan Alquran sebagai petunjuk kalau kita tidak bisa mengerti isinya. Dan momentum ramadan ini hendaknya kita isi dengan banyak membaca dan mempelajari isi Alquran, lalu kita upayakan untuk diamalkan.

Disisi lain, guru yang muslim tiada dasar baginya untuk memisahkan apalagi mempertentangkan antara yang ukhrowi dan duniawi. Seorang guru Muslim yang mengajarkan tauhid, geografi, matematika, sosiologi dan pelajaran lainnya adalah pelaksana dari apa yang ia ketahui tentang ilmunya, dia juga pelaksana ajaran Islam yang baik. 

  Dengan demikian, dia mampu menyeimbangkan ilmu pengetahuan dengan pengalamannya di hadapan Allah Swt. Sabda Nabi Muhammad Saw dalam hal ini: “Beramallah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selama-lamanya dan untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok.”

Ramadan tahun ini, setiap orang dan tentu semua civitas sekolah yang Muslim  harus memiliki iman kuat yang merupakan salah satu konsep dasar Islam bagi perilaku seorang Muslim. Hal ini terlebih-lebih lagi perlu diterapkan bagi seorang guru. 

  Hanya dengan ilmu yang kuat, seorang guru dapat menunaikan niat ibadahnya mengabdi kepada Allah dan melaksanakan pengabdiannya untuk pendidikan di jalan Allah Swt. 

  Islam sendiri mengandung makna berserah atau pasrah dan sikap serta perilaku demikian hanya dapat ditunjukkan oleh orang dan guru yang beriman. Dedikasi dengan pasrah demi pendidikan dan anak didik, demi agama bangsa dan negara, demi ilmu (ukhrowi dan duniawi) karena niat ibadah yang bersumber dari iman yang kuat dan benar. 

  Kebijakan seorang guru Muslim harus ditunjukkan dengan rendah hati,  membesarkan hati orang yang kurang tahu, penuh persaudaraan dan keguyuban, karena niatnya ialah keselamatan dan perdamaian. 

  Dalam surat Ali-Imran ayat 159, perintah Allah lebih tegas lagi: Maka karena sebab rahmat Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersifat keras dan berhati kasar niscaya mereka menjauh dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka. Dan mohonkanlah ampun untuk mereka dan bermusyawarahlah kamu dengan mereka dalam urusan itu.

Bagi seorang Muslim perbuatan yang baik harus disertai niat karena Allah, ibadat kepada-Nya. Ada sebuah syair yang ditampilkan oleh Imam Sofyan As-Sauri, yang terjemahan bebasnya berbunyi: “Kami mencari ilmu tanpa niat karena Allah, ternyata ilmu itu tidak melekat atau bermanfaat kecuali karena Allah.”

  Guru harus memberi tauladan pada muridnya untuk senantiasa mencari ilmu, tanpa mengenal putus asa. Ajaran ini bersumber dari firman Allah sebagai tertulis dalam surat Yusuf: Janganlah kamu putus asa dalam mencari rahmat Allah. Termasuk rahmat Allah adalah ilmu yang harus kita cari dan kita syukuri, kita amalkan.

Bimbingan guru terhadap anak didiknya rupanya tidak terbatas hanya dalam mencari ilmu,  tetapi juga dalam mendalami ilmu menurut bidangnya. Dalam bahasa kini, mendalami kekhususan ilmiah (specialization) masing-masing. 

  Guru yang baik akan melatih anak didiknya supaya lebih banyak mendengar, lebih banyak melihat dan mempergunakan akal pikirannya untuk menjadi orang yang beriman. Ajaran ini dapat kita gali dari surat Al-Mulk (ayat 23): Katakanlah hai Muhammad .. Dialah Allah yang menjadikan kamu dan menjadikan bagimu sekalian: pendengaran, penglihatan, dan akal pikiran; maka sedikit sekali di antara kamu yang bersyukur. 

  Menurut ajaran Islam, guru dalam memilih dan mengolah materi pengajaran, harus mentaati ketentuan dan asas-asas. Pertama, memilih dan mengolah materi pengajaran dengan nama Allah dilandasi iman dan niat ibadah. Kedua, semua ilmu adalah ilmu Allah, karenanya tidak mempertentangkan antara materi ukhrowi dan materi duniawi.

  Ketiga, seluruh angkasa raya, planet dan bumi, serta lautan merupakan objek ilmu dan menjadi bahan atau materi pengajaran. Keempat, materi pendidikan harus dikelola dan disajikan secara ikhlas dan tidak boleh ia sembunyikan bagi anak didik dan umatnya. 

  Kelima, ilmu sebagai materi pengajaran dan sebagai hasil ‘membaca’ (belajar, meneliti) tidak boleh dijadikan barang dagangan yang dipasarkan dengan “jual-mahal”. Keenam, tidak diperkenankan memperjual-belikan ayat-ayat suci dan ajaran Rasulullah, apalagi untuk tujuan atau maksud tak terpuji.

Dari penggalian tersebut dapat kita tarik kesimpulan ajaran Islam tentang ekspresi spiritualitas para pelakunya, yaitu iman yang kuat disertai niat ibadah, memberikan suri tauladan yang baik, ucapannya sama dengan perbuatannya, bertanggungjawab dan  berintegritas moral intelektual, tertib, berdisiplin, sabar dan lemah lembut.

Wallahu a’lam. ***