MERDEKA BELAJAR

42
Taruna

Oleh Taruna 

Mahasiswa  IAI Bunga Bangsa Cirebon

SUDAH satu tahun kalender masehi warung-warung yang berada di sekolah tutup, karena murid-muridnya sementara tidak belajar di sekolah. Pada hari-hari normal seperti biasanya deretan warung (murid-murid menyebutnya dengan istilah kantin) sepanjang  samping sekolah itu selalu ramai dijejali oleh murid-murid pada saat istirahat . Tempat itu menjadi faforit  karena  mereka bisa memenuhi kebutuhannya. Murid-murid membutuhkan  makanan sebagai bahan baku energi untuk aktivitas belajarnya di ruang-ruang kelas. Hansrat murid tidak hanya sekedar asal makan, tetapi mereka  lebih memilih makanan atas dasar kebutuhan dan keinginannya. Oleh karena itu mereka dengan ikhlas rela berebut dan mengantri di depan warung/kantin  sekolah.

Fakta yang muncul dan menarik  adalah ramainya kantin sekolah tidak seramai di ruangan perpustakaan sekolah termasuk di ruang kelas. Pertanyaannya adalah apakah ruang-ruang tersebut tidak mampu melayani kebutuhan murid? Apakah fenomena seperti itu harus menjadi bahan refleksi pembelajaran yang biasa dilaksanakan oleh guru? Apakah selama ini kelas yang dibuat oleh guru  tidak mampu memenuhi kebutuhan dan minat murid? Sehingga dengan demikian ada saja alasan murid untuk ingin selalu ke luar kelas manakala kegiatan pembelajaran sedang berlangsung. Lalu bagaimana layanan pembelajaran yang dibutuhkan oleh murid?

Guru Merdeka

Peran guru  untuk memanusiakan manusia, bisa diwarnai dengan mendudukan murid sesuai dengan kodratnya. Pendidikan tidak cukup dengan mentransformasikan pengetahuan belaka, tetapi adanya keseimbangan pengembangan sikap dan ketrampilan pada diri murid sebagai peserta didik. Oleh karena itu tugas pendidik adalah menuntun murid agar menemukan dirinya sesuai dengan kodrat masing-masing agar ke depan mereka merdeka dan bahagia. Hal inilah yang diwasiatkan oleh Ki Hajar Dewantoro puluhan tahun yang lalu. Melalui filsafat pendidikannya yang didasari oleh progresifisme ini melahirkan konsep cemerlang, tetapi sayangnya kemudian  ditepikan  pada khasanah praktek pendidikan di negeri ini. Warisan peradaban ini mudah-mudahan masih tersimpan oleh Taman Siswa di Yogyakarta. Konsep pendidikannya menolak adanya praktek otoriter seperti diberlakukannya standarisasi yang bertolak belakang dengan kodrat  murid. 

Relevansi konsep pendidikan yang ditawarkan oleh Ki Hajar Dewantoro dengan  konsep pendidikan masa depan mulai dijadikan dasar tolakkan berpikir untuk melahirkan kebijakan baru dalam sistem pendidikan di negeri ini. Walaupun demikian, konsep seperti itu  belum mampu diterima sepenuhnya oleh  lapisan  akar rumput sebagai ujung tombak pelaksanaan  yang memiliki tugas untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Munculnya banyak komunitas yang mengusung praktek pendidikan alternatif dan inovatif dapat dijadikan sebagai indikator adanya ekspansi pemikiran dan kegelisahan terkait dengan upaya bersama untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.Eksistensi mereka lebih mengarahkan pada praktek baik yang lebih didasari oleh teori-teori belajar modern  dan lebih berpihak kepada murid. Sementara pada sisi lain praktek pendidikan lama masih menancapkan kakinya dengan kokoh dan didukung penuh serta diuntungkan oleh faktor politik.

Konsep

Konsep pembelajaran berdiferensiasi  dalam khasanah praktek baik pendidikan di negeri ini bukan merupakan barang baru. Praktek pendidikan  ini dikenal dengan pengelompokkan   menjadi aliran/kelas-kelas tertentu seperti dalam historisnya  ada aliran A (kesusastraan), aliran B (ilmu alam dan pasti), dan aliran C (untuk pekerjaan administrasi dan lain-lain). Ki Hajar Dewantoro  mengungkapkan bahwa diferensiasi ini berlaku  pada tingkat S.M.U.A dengan maksud menyesuaikan  dasar kejiwaan murid dengan aliran pengajarannya  masing-masing, agar  memudahkan  kemajuan  serta perkembangan akal budinya  menurut kodratnya masing-masing.

Konsep yang dipaparkan oleh Lindgren akan sangat membantu guru dalam memetakan  keadaan murid yang sebenarnya. Strategi yang bisa dijalankan oleh seorang guru untuk memetakan hal tersebut bisa melalui dialog yang asertif, melakukan survai/menggunakan quisener, melakukan coaching dengan latar  yang nyaman dan membina hubungan baik dengan murid. Upaya ini dilakukan dengan harapan memperoleh data empiris tentang murid sebagai kontribusi terbesar dalam menentukan  langkah yang tepat untuk mencapai tujuan belajar. 

Jadi kebutuhan belajar murid yang diungkap oleh Tomlinson di atas bisa dimaknai sebagai ilustrasi yang menggambarkan jarak antara tujuan belajar yang akan dicapai dengan kondisi atau kemampuan murid yang sebenarnya. Pada konteks ini ada tujuan pembelajaran yang sangat penting untuk diketahui bersama. Tugas guru adalah menuntun murid dengan berbagai kondisi yang dimilikinya untuk bisa secara maksimal  mencapai tujuan belajar tersebut. Deskripsi ini menuntun pemikiran kita bahwa  karakteristik  pembelajaran  berdiferensiasi itu berfokus  pada konsep dan prinsip pokok materi pelajaran, murid akan diajak  menjadi peselancar aktif, dan mereka bisa  membuat kelompok secara  fleksibel.

Komponen

Lingkungan belajar merupakan  salah satu komponen pembelajaran berdiferensiasi. Pada sisi ini dapat diterjemahkan bahwa perlu ada penetapan acuan yang mampu memberikan penjelasan  sehingga murid merasa tertuntun  untuk kerja mandiri sesuai dengan kebutuhannya. Pola ini tentu saja lebih mengarahkan  belajar siswa sesuai kemampuannya untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tipe belajar murid diberi ruang untuk bisa  bereksplorasi. Efek psikologis yang bisa dirasakan murid adalah tumbuhnya rasa percaya diri, dan merasa dihargai oleh lingkungannya. 

Memaksimalkan kemampuan murid dalam mencapai tujuan pembelajaran dipandang perlu adanya proses. Oleh karena proses pembelajaran yang dilakukan merupakan bagian dari komponen  pembelajaran berdiferensiasi. Upaya yang bisa dilakukan oleh guru adalah  menyediakan  pusat minat yang mendorong murid  untuk mengembangkan dirinya. Hal ini memberikan deskripsi bahwa dalam proses kegiatan pembelajaran  guru memberikan ruang seluas-luasnya  kepada murid  untuk bisa memilih dan menggunakan ruang tersebut sebagai  tempat untuk mengeksplorasi diri. Pada ranah ini pula tidak hanya sekedar untuk  memberikan ruang bereksplorasi tetapi juga guru memberikan  variasi waktu kepada murid untuk bisa menyelesaikan tugas-tugasnya. 

Prinsip

Dari keempat komponen pembelajaran berdiferensiasi tersebut akan bermuara kepada  pembelajaran  yang memperhatikan  perbedaan- perbedaan yang dimiliki oleh murid. Oleh karena itu dalam pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi, seorang guru harus melakukan asesmen yang terus menerus. Upaya ini  memiliki tujuan  untuk lebih mengenal capaian kemampuan murid-murid. Sehingga dengan pinsip ini  seorang guru akan lebih mudah dan tepat dalam merumuskan perencanaan pembelajaran dan pengembangan kurikulum  untuk satuan Pendidikan sesuai dengan kebutuhan murid.

Keberagaman  murid yang dapat dilihat dari hasil asesmen  berkesimambungan harus disikapi oleh guru dengan memberikan jaminan yang  bisa menentramkan murid-muridnya. Keberagaman ini bukan dijadikan daya dorong lahirnya kekerasan di kelas dalam proses pembelajaran. Opsih yang tepat adalah guru mampu menjamin proses pembelajaran yang dilakukannya selalu mengakui dan menjunjung tinggi realita yang dimiliki oleh setiap murid. Tindakan paling arif dan bijaksana yang bisa dilakukan oleh guru adalah melibatkan murid berdasarkan kesamaan minat, memberdayakan seluruh murid untuk turut aktif dalam pembelajaran. Hasil belajar yang dicapai oleh murid harus dipandang sebagai sesuatu yang berharga  dan bermanfaat. Pada prinsip ini diharapkan guru tidak pelit memberikan pujian dan penghargaan. 

Untuk mencapai tujuan pembelajaran bersama tersebut diperlukan strategi pembelajaran yang berfariasi. Upaya ini diharapkan mampu membendung terjadinya learning loss  atau hilangnya minat belajar pada siswa  karena strategi yang digunakan oleh guru dalam pembelajaran selalu monoton. Pada sisi ini perlu ada kajian riset yang mendalam terkait dengan strategi pembelajaran atau dengan menggunakan hasil riset orang lain sebagai rujukan untuk bertindak. Banyak riset dilakukan oleh mahasiswa dan akademisi keguruan lainnya yang hanya menumpuk di rak buku tanpa pernah direkomendasikan atau barangkali satuan pendidikan sendiri tidak mau menggunakannya untuk peningkatan mutu pendidikan. 

Sebagai akhir tulisan ini akan ditutup dengan gagasan pokok tentang penilaian dalam pembelajaran berdiferensiasi. Mengutip pendapat dari Tomlinson (2000) bahwa dalam pembelajaran berdiferensiasi, murid dinilai dengan berbagai cara sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya. Prinsip ini memandang bahwa keberagaman murid akan membutuhkan hal yang berbeda dan produk yang berbeda pula. Maka akan menjadi adil dan bijaksana manakala seorang guru melakukan penilaian dengan menggunakan kaca mata lebih dari satu. ***