Danrem: Kerukunan Umat Beragama Benteng Kekuatan Indonesia

7
KOREM 063/SGJ menggelar kegiatan Pembinaan Kerukunan Umat Beragama Triwulan I tahun anggaran 2021 di aula Sunan Giri Komplek Korem 063/SGJ Jalan Brigjend Dharsono By Pas, Kota Cirebon, Kamis (8/4/2021).* Ist/KC

CIREBON,(KC Online).-
Korem 063/SGJ menggelar kegiatan pembinaan kerukunan umat beragama triwulan I tahun anggaran 2021 di Aula Sunan Giri Komplek Korem 063/SGJ Jalan Brigjend Dharsono By Pas, Kota Cirebon, Kamis (8/4/2021).
Dalam sambutannya, Danrem 063/SGJ Kolonel Inf Elkines Villando Dewangga menyampaikan, Indonesia memiliki enam agama yang diakui negara, tapi tidak ada dalam sejarah Indonesia perang antar agama.
Masyarakat yang saling menghargai dan mengasihi menjadi benteng kekuatan Indonesia. Indonesia juga memiliki ratusan suku dan budaya yg beraneka ragam. Watak dan adat setiap suku tidak sama dengan yang lain.
Tidak hanya itu, dalam satu lingkup beragama contohnya Islam, banyak aliran dan ormas yang beragam, dari cara beribadah sampai bersosial kita tidak sama, tapi hubungan antara satu sama lain tidaklah luntur. Dari semua itu, tersimpan dalam lima sila yang menjadi dasar negara Indonesia.
Tujuan kegiatan ini yakni mempererat tali silaturahmi dan hubungan sosial antar umat beragama yang berada di wilayah jajaran Korem 063/SGJ serta terwujudnya kerukunan umat beragama dalam kehidupan yang damai.
“Istilah kerukunan umat beragama identik dengan istilah toleransi. Pengertian toleransi itu sendiri yakni saling memahami, saling pengertian dan saling membuka diri dalam bingkai persaudaraan. Sedangkan dalam konteks masyarakat Indonesia, kerukunan umat beragama berarti kebersamaan antar umat beragama dengan pemerintah dalam rangka suksesnya pembangunan nasional dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” katanya.
Elkines menjelaskan, toleransi berarti menghargai dan menghormati perbedaan yang ada. Karena, Indonesia adalah negara yang kaya akan berbagai suku, agama, bahasa, dan budaya sehingga faktor inilah yang menjadi dasar dari semboyan yang Indonesia miliki yakni Bhineka Tunggal Ika.
“Namun perbedaan itu bisa saja menimbulkan gesekan-gesekan mengingat masyarakat Indonesia yang majemuk. Dalam konteks Indonesia, negara menjamin kebebasan beragama setiap warganya,” kata Danrem.
Ia menambahkan, jaminan terhadap hak beragama, tidak hanya berupa perlindungan atas pilihan keyakinan seseorang, tetapi juga harus menjamin ekspresi keagamaan yang merupakan bagian dari peribadatan dan ritual keagamaan.
Namun demikian, Elkines berharap kepada semua pemuka agama yang berada di Indonesia kihususnya di Wilayah Korem 063/SGJ Cirebon, agar berperan aktif dalam membina kerukunan umat beragama di masyarakat dan peka terhadap situasi yang berkembang saat ini. Dan harus mampu menjadi pilar pemersatu bangsa dan agama di wilayah masing-masing.
Sebagai penganut agama maupun kepercayaan, pegang teguh akidah masing-masing. Bertoleransi namun tidak membabi buta tanpa memiliki pendirian, tetapi harus dibarengi dengan suatu prinsip yang adil dan membela kebenaran. “Marilah kita menjadikan keberagaman dan perbedaan menjadi suatu hal yang indah. Itulah Indonesia yang Pancasila dan ber-Bhinneka Tunggal Ika,” katanya. (Iwan/KC)