Kesehatan Reproduksi Kaum Milenial

73
Tia Sarawati

Oleh Tia Sarawati

Mahasiswi Biologi, IAIN Cirebon

REPRODUKSI sering diartikan sebagai proses kehidupan manusia dalam melangsungkan kehidupan atau menghasilkan keturunan. Karena hal tersebut kesehatan reproduksi  dianggap sebagai suatu hal yang berkaitan dengan terbebasnya dari suatu penyakit atau cacat yang berkaitan dengan suatu system, fungsi dalam proses berlangsungnya reproduksi dengan begitu menjaga dan melindungi organ reproduksi harus perlu digalak kan serta diperhatikan. Layaknya dinding rumah jika tidak dibersihkan atau diganti dinding tersebut terlihat kusam bahan kotor, layaknya kesehatan reproduksi yang tidak dibersihkan.  

Menjaga kesehatan reproduksi merupakan suatu hal yang sangat penting terutama bagi remaja. Sebab, masa remaja merupakan masa untuk dapat mengontrol kesehatan reproduksi sendiri, serta masa remaja waktu terbaik dalam membangun kebiasaan baik dalam menjaga kebersihan yang dapat berperan atau menjadi masalah dalam jangka panjang. Menurut organisasi kesehatan (WHO) remaja orang berusia 12 hingga 24 tahun dengan kesehatan reproduksi sendiri merupankan suatu kondisi  kesehatan dari segi fisik,mental dan sosial yang utuh . Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menjadi dewasa, artinya proses pengenalan dan proses pengetahuan kesehatan reproduksi sebenarnya sudah dimulai pada masa ini,, Namun, nyatanya, tak sedikit remaja yang tak sadar tentang kesehatan reproduksi. 

Kurangnya pembekalan edukasi yang berkaitan dengan reproduksi nyatanya bisa memicu terjadinya hal-hal yang tak diinginkan, salah satu hal sering terjadi karena kurangnya pembekalan atau sosilisasi adalah penyakit yang berkaitan dengan organ seksual. Menurut dewi cahyani selaku dosen pengampu matakuliah Reproduksi tadris Ipa Biologi iain Syekh nurjati Cirebon mengungkapkan “ remaja sangat perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar memiliki informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai factor yang benar, diharapkan remaja memiliki sikap dan bertanggung jawab pada dirinya dalam pentingnya kesehatan reproduksi”

Dengan demikian menjaga organ kesehatan reproduksi penting dilakukan dengan cara memulai menjaga kesehatan alat-alat vital ada banyak cara yang bisa dilakukan sederhana untuk menjaga kesehatan organ kesehtan diantaranya menjaga kebersihan di sekitar alat vital menggunakan pemakaian celana dalam 3 kali sehari merupakan cara sederhana yang dapat dilakukan.

Ternyata celana dalam berpotensi menjadi sarang kuman dan penyakit apabila tak diganti secara teratur, dilansir dalam laporan survey Mulberry’s Cleaners,binatu di St.Paul, Amerika Serikat tahun 2018 terkait kebiasaan urusan cuci mencuci celana dalam survey yang dilakukan terhadap 1.000 orang dinyatakan sebanyak 19 persen pria dan 11,5 persen wanita tidak mecuci pakaian dalamnya. Kebanyakan usia remaja yang paling berseka, Sebanyak 85 persen kelompok usia 18-24 tahun mencuci celana dalam 1-2 kali pakai. Di antara mereka yang tak suka mencuci celana dalam hanya 11,3 persen diketahui pula  pada usia dewasa hanya mencapai 10 persen. Terkait data tersebut penanganan serta informasi terkait kebersihan reproduksi harus gencar diinformasikan. 

Dr.Febri Kusuma Wardana selaku dokter ahli kulit dan kelamin mengungkapkan terkait kebersihan celana dalam akan mempengaruhi suatu proses reproduksi  ,” kuman dapat membawa beberapa penyakit yang berbeda, termauk virus salmonella, rotaviruss dan E-coli bahkan kemandulan ” ucapnya.

Pakaian dalam atau celana dalam merupakan media penyebaran infeksi jamur maupun bakteri yang berbahaya hindari model celana dalam ketat atau model thong , karena dapat mempermudah bakteri dapat bergerak dari belakang kedepan. Febri pun menyarankan untuk memakai celana dalam berbahan katun karena dapat menyerap keringat dan mengganti celana dalam mereka minimal duakali sehari secara teratur, tentu saja saran Febry semakin relavan bagi kita yang tinggal di wilayah tropis sedangkan bagi orang-orang yang lebih kering dapat mengganti minimal sehari namun perlu diperhatikan celana dalam yang berbahan katun karena dapat menyerap keringat, mencegah adanya jamur serta mempunyai sirkulasi udara yang baik , patut dihindari memakai celana dalam berbahan sitetik juga sutra karena tak dapat menyerap keringat memang, celana dalam berbahan sintetik maupun sutra memiliki warna menarik namun dapat membahayakan kita. Jika sudah terlanjur membeli dan memilikinya jangan sering-sering dipakai, jika ingin sekali membeli bahan celana dalam yang tak terbuat dari katun , pilihlah yang ada lapisan katun di bagian depan atau vagina supaya meminimalisir adanya infeksi organ vital reproduksi.

Sementara itu, menurut Rahmawat i(2017) mahasiswi Biologi iain Cirebon celana dalam yang lembab akibat terkena keringat yang dipicu oleh udara panas , aktivas yang padat sehingga tubuh aktif bergerak, atau bahakan kebiasaan malas mengeringkan badan setelah mandi atau buang air bisa membuatnya lebih rentan terhadap jamur yang dapat menyebabkan gatal-gatal atau ruam dibagian kelamin, bahkan jika celana dalam tidak rajin diganti jumlah bakteri akan meningkat dan berpotensi membahayakan kesehatan.

Dampak yang sering terjadi ketika kita tidak rajin mengganti celana dalam atau salah pilih celana dalam diantaranya  keputihan, keputihan ada yang normal dan yang tidak normal. Keputihan yang normal biasanya terjadi karena factor hormonal yang biasanya menimbulkan bau tidak sedap dan menimbulkan rasa gatal . sedangkan keputihan tidak normal karena adanya infeksi yang terjadi karena berbagai factor diantaranya pemilihan celana dalam dan tidak rutinnya mengganti celana dalam dengan sama-sama menimbulkan bau tidak sedap. Keputihan memang penyakit diluar namun apabila masuk kedalam bisa menimbulkan penyakit yang lebih kronis seperti kanker Rahim dan sejenisnya.

Terkadang remaja malu ketika sudah mengalami masalah terkait reproduksi , usia remaja sering memendam masalah tersebut dari pada konsultasi pada orang tua yang mereka takutkan akan menimbukan masalah yang berunjung besar. Sesuai yang dilansir pengalaman relawan remaja saudari Nina relawan Rumah Zakat Cirebon bidang kesehatan mengungkapan “seringnya masalah kesehatan remaja terkait reproduksi mereka sulit bercerita dan yang paling ringan dan banyak bercerita yaitu masalah keputihan remaja”. Memang benar adanya masalah keputihan yang dihadapi oleh remaja putri memang terlalu ruwet. Namun masalah ini justru menjadi ketakutan tersendiri bagi mereka yang tidak sembuh dan sulit kedokter karena dapat menimbulkan masalah berat bagi mereka yang sedang mengalami masa merah jambu , Nina juga menyarankan hal yang paling mudah dilakukan dengan mengganti celana dalam 2 sampai 3 kali sehari, gerakan ganti celana dalam 2-3 kali sehari kerap sekali diserukan pada remaja karena mudah ringan dilakukan dan juga berdampak besar bagi kesehatan reproduksi remaja. Ganti celana dalam sehari 3 kali atau 2 kali ternyata merupakan obat mujarab untuk mencegah dan menyembuhkan keputihan. ***