Textese

41
Dwi Haryanti

Oleh Dwi Haryanti

Guru Bahasa Inggris SMA Negeri 1 Cirebon

SELAMA ini, ada banyak cara yang digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi dan perkembangan teknologi mengubah cara kita menyampaikan pesan dan membuat catatan-catatan. Mula-mula manusia mecoret-coret dinding gua, lalu mengukir di atas batu, kemudian menulis di atas kertas, hingga yang terbaru mengetik dengan gawai. Hadirnya teknologi mengubah bagaimana cara kita bertukar pesan.

Ketika cara berkomunikasi dengan tulisan ditemukan, Plato merasa khawatir bahwa menulis akan menghilangkan daya ingat. Hari ini, perkembangan teknologi berkomunikasi jauh lebih pesat daripada saat Plato masih hidup dan menyebabkan kekhawatiran baru muncul dengan adanya budaya menulis pesan singkat menggunakan gawai. Generasi Z lebih akrab dengan gaya tulisan singkat yang mereka gunakan untuk bertukar pesan ditambah dengan emoticon yang lucu-lucu yang membuat mereka bisa berekspresi lebih. Budaya atau kebiasaan menyingkat tulisan saat berkirim pesan disebut dengan istilah Textese

Ada dua kubu baik yang pro maupun kontra dengan munculnya textese ini. Kubu yang pro berpendapat bahwa kemampuan para remaja untuk berkomunikasi melalui pesan singkat yang penuh dengan singkatan-singkatan, menandakan bahwa mereka adalah komunikator yang efektif. Mereka bisa saling berkirim pesan tanpa harus banyak detail namun tidak mengurangi esensi dari pesan. John McWhorter, seorang ahli bahasa berpendapat bahwa dengan adanya textese, bahasa justru berkembang dan berevolusi bukannya mengalami kemunduran. Keahlian para remaja mengirim pesan singkat menunjukkan bahwa mereka mampu mengekspresikan dirinya dengan gaya bahasa baru. 

Sebuah penelitian di Inggris membuktikan bahwa bentuk textese ini sebenarnya dapat memengaruhi literasi secara positif. Anak-anak yang mengirim pesan singkat melalui gawai dan yang menggunakan banyak singkatan mendapat nilai lebih tinggi pada tes membaca dan kosa kata. Faktanya, semakin mahir mereka menyingkat, semakin baik mereka dalam mengeja dan menulis. Jauh dari sekadar sarana untuk menyiasati melek huruf, pesan singkat tampaknya memberi dorongan melek huruf. Efeknya mirip dengan apa yang terjadi ketika orang tua mengoceh kepada bayi atau membacakan untuk balita: semakin banyak anak mengenal bahasa, dengan cara apa pun, mereka menjadi semakin terampil secara verbal.

Ketika seorang remaja mengirim pesan kepada seorang teman, kerabat atau kenalan, melalui telepon seluler, dia sedang berkomunikasi secara pribadi, dan pesan itu ditujukan untuk satu orang. Cara untuk menyampaikan inti dari ide yang ingin diungkapkan oleh orang tersebut tergantung pada individu tersebut dan kita tidak dalam posisi yang relevan untuk mengkritik bagaimana pesan pribadi ditulis atau bahkan dieja.

Sementara itu John Sutherland, seorang profesor sastra modern dari universitas College of London, menyebut pesan singkat sebagai “penmanship for illiterates“. Dia menyayangkan penguasaan dan penggunaan bahasa tulis para pemuda yang banyak menggunakan textese. Dia justru melihat hal ini sebagai kemunduran dalam berbahasa. Terutama dalam bahasa Inggris, kebiasaan menggunakan textese merusak tata bahasa (grammar). 

Para oponen terhadap kebiasaan mengirim pesan singkat melalui gawai bahkan mengatakan bahwa anak-anak lebih pandai mengetik di atas keyboard daripada menulis di atas kertas. Hal ini terjadi karena mengetik dengan gawai merupakan salah satu kemampuan natural manusia yang menggunakan dua jempol (opposable thumb). Istilah yang lebih keren untuk menyebut generasi pengguna gawai adalah a chimp with a banana phone. 

Lebih jauh dibahas bahwa kebiasaan berkirim pesan singkat perlahan-lahan mengikis budaya komunikasi lisan. Namun dengan berkembangnya teknologi, diramalkan bahwa kebiasaan berkirim pesan singkat pun akan tergantikan dengan adanya voice recognition system yang akan mengembalikan budaya komunikasi lisan.

Jadi bagaimana seharusnya menyikapi fenomena textese yang semakin semarak dengan adanya tren Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang membuat guru dan siswa harus lebih banyak berkomunikasi lewat pesan singkat ini? 

Sebagai seorang guru Bahasa Inggris, saya awalanya memiliki kekhawatiran bahwa budaya textese akan membuat para siswa tidak mampu menguasai grammar (tata bahasa) dan spelling (ejaan) dalam tata tulis Bahasa Inggris yang baik. Rasa kahwatir ini bukannya tanpa alasan namun didukung oleh beberapa sumber. Salah satunya adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh rekan saya seorang guru SMP di Filipina. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa buadaya textese sangat memengaruhi tingkat kinerja siswa dalam Tata bahasa Inggris secara umum. Siswa membuat kata-kata yang tidak ditemukan dalam Standar Inggris. Textese melahirkan beberapa kata baru yang banyak digunakan oleh siswa dalam komunikasi lisan dan tertulis. Dalam kesimpulannya dia mengatakan bahwa kasus ini telah memperburuk tata bahasa Inggris siswa bahkan juga Bahasa ibu mereka karena mereka menyimpang dari penggunaan standar bahasa Inggris.

Namun dengan berbagai pertimbangan, saya berpendapat bahwa pada akhirnya, cara terbaik untuk memikirkan textese adalah bukan menganggapnya sebagai degradasi bahasa, dan tentu saja bukan sebagai peningkatan juga, melainkan sebagai dua jenis bahasa yang sepenuhnya terpisah. 

Lalu, akankah bahasa di masa depan diubah oleh pesan teks? Jawabnya adalah Iya dan tidak. Iya, karena ponsel masih akan menjadi andalan alat komunikasi dalam waktu yang lama sehingga gaya Bahasa untuk komunikasi yang bersifat pribadi dan informal akan terus dilakukan. Tetapi, akankah dapat diterima untuk menulis dengan gaya Bahasa textese di surat lamaran kerja, misalnya? Tentu tidak, karena bahasa formal cenderung konsisten dan selektif. 

Orang-orang muda akan terus mendorong perubahan bahasa, dan pada saat yang sama, para orang tua akan terus menolak perubahan ini. Begitulah cara manusia bekerja sesuai dengan hukum alam. Sebagian besar variasi bahasa baru akan bermunculan kemudian tersingkir sedangkan hal-hal yang menimbulkan resonansi yang lebih dalam dan benar-benar meningkatkan bahasa akan bertahan dan pada akhirnya dapat menjadi formal. 

Perubahan dan perkembangan adalah satu hal yang konstan dalam hidup, dan suara dan frase yang berubah dari suatu bahasa hanyalah cerminan dari perubahan dalam masyarakat tertentu. Kita tidak dapat mengharapkan bahasa akan tetap sama sementara dunia di sekitar kita dan khususnya cara kita berkomunikasi memiliki begitu banyak variasi. Pesan singkat bisa menjadi cara komunikasi yang menyenangkan dan menghibur dengan ciri khasnya. Hal penting yang perlu diingat untuk pendidikan adalah mengajari siswa cara menggunakan berbagai jenis komunikasi. Menulis esai dan menulis pesan singkat adalah hal yang berbeda dan mereka harus bisa belajar keduanya.

Siswa yang baik saat ini memiliki dua bahasa yang efektif: mereka mengaktifkan mode textese saat bercakap-cakap dengan teman-temannya, kemudian menonaktifkannya pada waktunya untuk berkomunikasi dengan guru dan saat menulis tugas. Siswa yang tidak bisa menari dengan gesit di antara keduanya akan tertinggal, seperti yang selalu dilakukan anak-anak non-adaptif. Bagaimanapun, saya lebih bahagia ketika siswa saya mengirim pesan teks yang diawali dengan kata Assalamualaikum yang ditulis lengkap daripada hanya disingkat menjadi Ass. Otak bilingual saya langsung menerjemahan kata itu ke dalam Bahasa Inggris yang menjadikan artinya sangat jauh dari kata salam. So, C U L8tr. ***