Menangkal Faham Radikal di Kalangan Remaja

44
Muhamad Jaenudin, S.Ag

Oleh Muhamad Jaenudin, S.Ag

Mahasiswa Pascasarjana UIN Syekh Nurjati, Kepala KUA Kecamatan Mandirancan

TEROR bom kembali menebar. Kali ini menyasar kota Makasar. Minggu, 28 Maret 2021 yang lalu bom meledak di depan Gereja Katedral dengan dua orang pelaku nya tewas di tempat, dan pada saat yang sama melukai belasan orang tak bersalah.

Belum lama ini, 27/11/2020 telah terjadi pembunuhan sadis satu keluarga yang terdiri empat warga sipil Desa Lembatongoa. Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Mereka dibunuh secara sadis, korban ada yang dibakar, bahkan hingga kepalanya ditebas. Kapolda Sulteng Irjen Abd Rakhman Baso mengatakan bahwa berdasarkan hasil olah TKP terduga pelakunya adalah kelompok teroris MIT (Mujahidin Indonesia Timur ).

Faham radikalisme di negeri ini terus bergentayangan mencari korban dari waktu ke waktu seolah tak kenal kapok. Yang masih hangat dari ingatan misalnya penusukkan  senjata tajam kepada Menkopolhukam Wiranto tahun 2019, padahal beberapa bulan sebelumnya terjadi penyerangan membabibuta kepada anggota Polisi di Kantor Polsek Wonokromo, Surabaya. Dalam penelusuran mereka adalah kelompol Anshoru Daulah. 

Radikalisme dapat dimaknai sebagai pandangan atau ideologi yang ditandai dengan meningkatnya komitmen pada kekerasan atau komitmen membolehkan cara dan strategi kekerasan dalam berbagai konflik. Sikap dan pemahaman Islam yang radikal dapat memotivasi penganutnya melakukan berbagai cara yang seringkali menjadikannya memilih untuk bergabung dalam aksi terorisme.Dalam konteks Indonesia, Abdurrahman Mas’ud berpendapat bahwa gerakan radikalisme agama dalam beberapa hal dapat mengganggu stabilitas nasional dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini terlihat dari berbagai aksi gelombang terorisme di Indonesia, dimana sejak awal tahun 2000, pelaku terorisme menyerang fasilitas umum sebagai target terornya, yang dampkanya mengakibatkan banyaknya korban, baik yang tewas maupun terluka. Sasaran serangan gerakan terorisme saat ini perlahan mengalami pergeseran dengan menambah target sasaran, yaitu: fasilitas pemerintahan dan aparat kepolisian. Dalam kurun waktu  lima tahun terakhir polisi menjadi target serangan teroris. 

Yang menarik jika direnungkan dari beberapa kasus teror di atas pelakunya adalah anak muda. Ini terjadi karena secara pemahaman kalangan muda masih polos dan belum punya dasar keberagamaan yang kuat sehingga dapat dengan mudah dirasuki doktrin. Pada sisi lain, secara psikologi emosi anak muda yang belum stabil dapat dengan mudah disulut api semangat jihadnya.

Untuk itu, upaya pembentengan Ummat Islam terutama kaum muda dari bahaya faham radikal menjadi sangat penting. Ini bisa dilakukan dari semenjak para pelajar tingkat SLTA. Dalam pandangan para ahli psikologi usia SMA masuk pada masa dewasa awal. Menurut seorang ahli psikologi perkembangan, Santrock (1999), orang dewasa muda termasuk masa transisi, baik transisi secara fisik (physically trantition), transisi secara intelektual (cognitive trantition), serta transisi peran sosial (social role trantition).

Diantara pola yang bisa menjadi alternatif adalah model pembinaan Remaja Masjid dengan menerapkan metode DSL (Dakwah Sistem Langsung). Metode Dakwah Sistem Langsung (DSL) kepada para anggotanya dalam beberapa literatur terbukti efektif menurunkan angka kasus kenakalan remaja seperti tawuran, geng motor dan perilaku menyimpang lainnya. Karenanya motode ini pun relatif efektif jika diterapkan dalam pembinaan menangkal radikalisme di tingkat remaja.

Salah satu yang menarik dari program metode DSL (Dakawah Sistem Langsung) yaitu siswa dikelompokkan ke dalam kelompok kecil (limited gruop) yang terdiri dari    5-10 orang, dimana tiap-tiap kelompok dipandu oleh seorang pembimbing dari pengurus Remaja Islam yang merupakan kakak kelas (tutor sebaya). Guru pembimbing mengkondisikan bimbingan ini di ruang lantai atas masjid, sesekali bahkan mengambil tempat di halaman Masjid. 

Pola pembelajaran  DSL seperti di atas mempunyai kelebihan, sebab secara psikologi totor sebaya adalah masih sesama siswa yang memungkinkan lebih bebas berkomunikasi antar sesama peserta didik dengan totornya tanpa mengalami hambatan psikologis. Antar peserta didik bisa saling curhat dan mengadu jika menemukan hal baru yang kurang dimengerti seperti ketika ada orang asing yang mengajak masuk organisasi tertentu. Uniknya lagi, sistem komunikasi ini terus terjadi bahkan ketika di luar kegiatan Kajian.  

Sementara itu, guru pembimbing juga terus aktif memberikan materi pembelajaran yang berisi pembekalan keilmuan, pengetahuan, akhlak  dan pencerahan wawasan, serta praktek pengalaman langsung di masyarakat. Pembekalan-pembekalan ini terbukti telah menjadi “pendidikan berkarakter” kepada peserta didiknya.

Pola pergaulan remaja bisa yang bersifat negatif seperti merokok, minuman keras, nongkrong di pinggir jalan dan mengkonsumsi narkoba dan lain-lain. Namun jangan lupa orang tua juga harus mewaspadai remaja yang berperilaku baik, sopan dan sholeh bahkan rajin menuntut ilmu namun jika kelompok sebaya mereka cenderung tertutup (exclusive group), mengingat faham keagamaan radikal bisa dengan mudah memasukkan doktrin mereka kepada kelompok remaja ini. Mereka mencuci otak setiap pengikutnya dengan meyakinkan bahwa apa yang dilakukan adalah ajaran yang benar sesuai dengan kehendak Tuhan, sedangkan di luar kelompoknya adalah kaum yang sesat dan kafir.

Menurut para ahli, di dalam kelompok sebaya, remaja berusaha menemukan jati dirinya. Disini mereka hanya memperhatikan sistem nilai kelompok teman sebayanya. Kelompok sebaya menyediakan suatu lingkungan, yaitu dunia tempat remaja dapat melakukan sosialisasi, dengan sistem nilai yang ditetapkan oleh teman seusianya. Kondisi ini bisa jadi berbahaya bagi perkembangan jiwa remaja, apabila nilai yang dikembangkan dalam kelompok sebaya adalah nilai yang negatif. Hal ini akan lebih berbahaya lagi apabila kelompok sebaya ini cenderung tertutup (exclusive group) yang setiap anggota tidak bisa lepas, dan harus mengikuti nilai, sikap, pikiran, perilaku, dan gaya hidup yang dikembangkan oleh pimpinan kelompoknya.

Maka menjadi penting adanya menciptakan kelompok sebaya di tingkat remaja yang dibimbing oleh murobbi nya (pembimbing) dan mengarahkannya ke pemahaman kegamaan yang lurus serta jauh dari faham yang menyimpang, apalagi radikal. 

Maka amatlah tepat apa yang disampaikan Rasulullah SAW dalam haditsnya  “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi.” (HR. Muslim) Semangat yang terkandung dalam hadits ini sesungguhnya adalah anak muda Islam harus pandai menciptakan lingkungan dan petemanan dengan orang-orang baik. Dalam konteks ini maka pola pembinaan remaja masjid bisa menjadi pilihan dalam rangka menangkal faham radikal di tingkat remaja. WaAllahu a’lam bissawwab. ***