Kota Cirebon Siaga Bencana

10
ILUSTRASI banjir di Kota Cirebon.* Dok/KC

CIREBON, (KC Online).-

Kantor Penanggulangan Bencana Daerah (KPBD) Kota Cirebon menetapkan siaga bencana pada bulan Febuari 2021 ini. Penetapan ini dilakukan menyusul masih tingginya intensitas hujan. Berdasarkan pemetaan KPBD, wilayah selatan Kota Cirebon atau Kecamatan Argasunya rawan longsor, sementara di pusat kota rawan bencana banjir dan banjir rob.

Kepala KPBD Kota Cirebon, Khaerul Bahtiar mengatakan, titik rawan tanah longsor terdapat di wilayah RW 08 Kopiluhur, RW 10 Kedung Jumbleng dan RW 11 Bendakerep, ketiganya di Kelurahan Argasunya. “Selatan Kota Cirebon banyak perbukitan dengan perkampungan di tengahnya,” katanya, Selasa (23/2/2021).

Khaerul menambahkan, bencana rawan banjir rob hampir mengancam wilayah pesisir, terutama yang berada di sekitar muara sungai yang mengalami pendangkalan. “Jika sungai masih belum dikeruk sampai kapan pun wilayah pesisir akan merasakan banjir rob,” tambahnya.

Sementara untuk bencana banjir, menurutnya, Kota Cirebon belum bisa dikategorikan sebagai daerah rawan banjir. “Sebab yang dimaksud banjir adalah luapan air di pemukiman yang tingginya 70 cm dan tidak surut dalam 24 jam. Dengan demikian wilayah Kota Cirebon belum bisa dianggap sebagai bencana banjir. Sebab dalam hitungan jam sudah surut jadi bukan banjir namanya, tapi genangan,” papar dia.

Ia pun meminta budaya tradisi gotong royong kembali dibangkitkan. Masyarakat juga diminta untuk menjaga lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan dan banyak menanam pohon.

Sementara itu, sebelumnya Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat mewaspadai dampak dari cuaca ekstrem dalam sepekan ke depan. Terutama untuk masyarakat di Wilayah Ciayumajakuning dan Sumedang, yang masih berpotensi hujan lebat disertai angin kencang dan petir.

Baik banjir maupun  tingginya intensitas hujan, maupun luapan air sungai, masih menjadi ancaman. Berdasarkan prakiraan cuaca berbasis dampak hujan lebat di Ciayumajakuning dan Sumedang, BMKG merilis peta potensi hujan dan bencana.

Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon menjadi dua wilayah yang memiliki peta hujan lebat terluas di bandingkan daerah lain di Ciayumajakuning dan Sumedang. Potensi dampak hujan lebat, dan kemungkinan bencana, terutama banjir,  dapat terjadi di wilayah sebagai berikut:

Pertama, Kota Cirebon status waspada meliputi Kecamatan Kesambi, Kejaksan, Lemahwungkuk, Pekalipan dan Kecamatan Harjamukti. Kedua, Kabupaten Cirebon status waspada meliputi Kecamatan Gegesik, Kaliwedi, Susukan, Arjawinangun, Ciwaringin, Panguragan, Gempol, Palimanan, Dukupuntang, Depok, Klangenan, Weru, Plumbon, Jamblang, Plered, Suranenggala, Gunungjati, Tengahtani, Sumber, Kedawung, Kapetakan, Mundu, Astanajapura, Beber, Greged dan Kecamatan Talun.

Ketiga, Kabupaten  Indramayu status waspada meliputi Kecamatan Cantigi, Arahan, Lohbener, Lelea, Jatibarang, Indramayu, Sindang, Balongan, Sliyeg, Juntinyuat, Kertasemaya, Kedokan Bunder, Karangampel, Sukagumiwang, Bangodua, Tukdana, Widasari dan Kecamatan Krangkeng.

Keempat, Kabupaten Kuningan status waspada meliputi kecamatan Pancalang dan Kecamatan Mandirancan. Kelima, Kabupaten Majalengka status waspada meliputi Kecamatan Jatitujuh, Ligung dan Kecamatan Sumberjaya.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat kondisi dinamika atmosfer yang tidak stabil dalam beberapa hari ke depan dapat meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di beberapa wilayah.

Monsun Asia yang masih mendominasi wilayah Indonesia dan diperkuat oleh aktifnya gelombang Rossby Ekuatorial dan gelombang Kelvin menjadi salah satu penyebabnya.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan, sepekan ke depan kewaspadaan akan potensi cuaca ekstrem harus ditingkatkan. Pasalnya, BMKG memprakirakan dalam periode sepekan ke depan curah hujan lebat yang  disertai petir dan kilat serta angin kencang.(Fanny)