Dzuriyah dalam Konteks Keturunan Sunan Gunung Jati

741
Patih Raja Muhammad Qodiran

SYEKH Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati merupakan tokoh ulama yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan Cirebon. Peran serta Sunan Gunung Jati menyebarkan Islam di Cirebon dan wilayah Jawa Barat sudah tidak diragukan lagi. Baik sebagai pemimpin maupun ulama.

Tiga keraton di Cirebon yang masih eksis tersebut merupakan salah satu warisan Sunan Gunung Jati. Selain warisan berupa fisik, sejumlah warisan berupa aturan adat atau pepakem menjadi hal yang wajib dijalankan.

Seperti yang sedang ramai terkait suksesi pengangkatan Sultan Sepuh XV yang belakangan banyak digugat oleh sejumlah pihak. Patih Keraton Kanoman Cirebon Pangeran Patih Raja Muhammad Qodiran mengatakan, salah satu warisan Sunan Gunung Jati adalah pepakem tentang pengangkatan sultan.

Dalam beberapa sumber dan literatur sejarah Cirebon, pengangkatan sultan di Keraton Cirebon harus berasal dari anak laki-laki pertama sultan yang bertakhta.

“Jadi bahasanya kalau ibarat pohon besar harus dari batang besarnya bukan ranting atau samping. Itu yang dinamakan dzuriyah atau keturunan asli Syekh Syarif Hidayatullah,” kata Patih Qodiran, Minggu (30/8/2020).

Dia menjelaskan, pentingnya mengetahui keturunan asli atau berdasarkan pepakem adat untuk menjaga silsilah dari Sunan Gunung Jati itu sendiri.

Patih Qodiran mengaku, sejauh ini Keraton Kanoman Cirebon selalu menjaga silsilah dan pepakem adat. Termasuk mekanisme pergantian sultan.

“Karena untuk menggantikan sultan sebelumnya harus diambil dari anak laki laki pertama dari permaisuri sultan. Pepakem seperti itu yang kami jaga dari zaman leluhur kami,” katanya.

Dia menyebut, banyak orang yang mengklaim sebagai keturunan Sunan Gunung Jati Cirebon. Namun, banyak juga yang tidak dapat membuktikan secara otentik.

Menurutnya, terkait dzuriyah yang sedang heboh di Cirebon baru sebatas pengakuan. Dia menyatakan, untuk mengakui seseorang tersebut adalah dzuriyah tidak mudah.

“Seorang dzuriyah atau keturunan Sunan Gunung Jati harus bisa mengaplikasikan perbuatan maupun petatah petitih dalam kehidupan sehari-hari. Sekarang kalau tiba-tiba banyak yang berbicara dzurriyah dalam persoalan takhta kasultanan siapa sosok dzuriyah itu kan harus tahu juga,” ucap Patih Qodiran.

Menurut dia, banyak keturunan Sunan Gunung Jati yang berada di luar keraton. Salah satunya ulama dan pemimpin pondok pesantren.

Patih Qodiran menyatakan, dzuriyah bukan hanya berasal dari keraton yang ada saja. Oleh karena itu, kata dia, penting untuk yang mengaku keturunan Sunan Gunung Jati kompak dan berkumpul bersama membahas dzuriyah yang pantas menduduki takhta sultan.

“Tanpa kepentingan ya, baik politik maupun pribadi semuanya harus dari hati yang ikhlas dan paling dalam. Saya mengimbau untuk semua keturunan Syekh Syarif Hidayatullah agar menguatkan diri untuk mendapat titik temu kriteria dzuriyah yang pantas menduduki takhta sebagai sultan,” ujarnya.(Fanny)