MUI Gelar Doa Bersama Memasuki Tahun Islam 1442 H

181

Memasuki tahun baru Islam 1442 H Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kuningan bekerja sama dengan Dewan Kemakmuran Masjid Syiarul Islam menggelar acara doa bersama dan salat berjamaan bertempai di Masjid Agung setempat, Rabu (19/8/2020).

Kegiatan yang sangat riligius itu, dihadiri Bupati H Acep Purnama, beserta anggota Forum Koordinasi Pemerintah Daerah (FKPD), Ketua DKM Syiarul Islam HR Yayan Sofyan, pejabat setda Kuningan, tokoh agama, tokoh masyarakat serta undangan lainnya. Doa dipimpin langsung Ketua MUI Kab. Kuningan, KH Dodo Syarif Hidayatullah. Acara dimulai sejap pukul 16.00 hingga memasuki salat magrib dilanjutkan dengan doa untuk meminta ampunan tehadap Allah Swt atas segala dosa yang telah diperbuat selama ini. Kumandang doa tak pernah terhenti hingga memasuki waktu salat isa.

“Memasuki tahun baru 1442 Hijriyah ini, kami sampaikan barokallahu lanaa fi al’aam al-jadiid. Selamat tahun baru hijriyah semoga membawa keberkahan bagi kehidupan kita semua. Marilah kita ambil hikmah dan makna fhilosofis dari pergantian tahun tersebut,” kata Ketua MUI Kab. Kuningan, KH Dodo Syarif Hidayattullah.

Selanjutnya Dodo menyampaikan QS 10:5 yang artinya, Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapka-Nya manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak (699). Dan menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui).

“Pergantian tahun hakikatnya adalah pergantian waktu yang terus berjalan setiap saat, detik dan demi detik, lalu jadi jam, hari, pekan, bulan, hingga jadi tahun dan seterusnya. Untuk memudahkan jumlah perputaran waktu, manusia dengan cerdas memberikan angka pada setiap perputaran, mulai dari tanggal untuk selama satu bulan, lalu bulan sejumlah 12 dalam setahun kemudian angka pada tahun setelah berputar selama 12 bulan,” ujarnya.

Ditambahkannya, angka yang menunjukkan tahun Masehi perhitungannya ditetapkan berdasarkan peredaran matahari. Sedangkan tahun Hijriyah ditetapkan tahun ditetapkan mulai dari Hijriyah Nabi Muhammad Saw perhitungannya berdasarkan peredaran bulan. Perubahan angka tahun, hakekatnya adalah perubahan waktu yang setiap detik terus berubah dan berlalu seiring dengan peredaran planet matahari dan bulan.

“Oleh sebab itu dalam mengakhiri dan penyambutan tahun baru Hijriyah dianjurkan oleh Rasulullah Saw untuk berdoa dan bermunajat mohon diterima kesolehan serta diampuni kesalahan kita di tahun yang lalu. Selanjutnya mendapatkan bimbingan serta hidayah dari Allah Swt untuk memasuki kehidupan baru ditahu yang baru 1442 H,” demikian harapannya. (Emsul/KC)