Keluarga Mertasinga: Sejarah Tidak Boleh Ditutupi, Agar Tidak Peteng, Kembalikan Takhta ke Trah Gunung Jati

709
Raden Udin Kaenudin

CIREBON, (KC Online).-

Keluarga besar Kesultanan Cirebon di Desa Mertasinga, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, mengambil sikap netral atas polemik takhta Sultan Sepuh XV Keraton Kasepuhan.

Keluarga besar Kesultanan Cirebon di Desa Mertasinga ini merupakan keturunan langsung dari Sultan Sepuh IV, yaitu Sultan Sepuh Tajul Arifin Raja Sena. Menurut salah satu keturunan, Raden Udin Kaenudin, pihaknya tidak mendukung, baik PR Luqman Zulkaedin maupun pihak Raden Rahardjo Djali yang beberapa waktu lalu dikukuhkan sebagai sultan polmak atau sultan pengganti sementara Sultan Sepuh XV Keraton Kasepuhan oleh keluarga Sultan Sepuh XI.

“Kita netral, tidak mendukung sana sini,” ujarnya, Minggu (9/8/2020).

Ia menambahkan, keluarga besar dari keturunan Sultan Sepuh IV ini menginginkan Sultan Sepuh diisi oleh mereka yang merupakan keturunan asli dari Sunan Gunung Jati.   “Kami minta posisi Sultan Sepuh dikembalikan kepada keturunan Sultan Sepuh IV,” ujarnya.

Menurutnya, sebenarnya yang paling berhak saat ini untuk berada di posisi Sultan Sepuh adalah keturunan dari Sultan Sepuh IV tersebut, sebab Sultan Sepuh V yaitu Sultan Sepuh Tajul Arifin Muhammad Sapiudin atau Sultan Matangaji yang meninggal karena dibunuh memiliki adik, yaitu Pangeran Abu Khayat Arya Penengah Surya Kusuma.

Ia menambahkan, keluarga besar dari keturunan Sultan Sepuh IV ini menginginkan sultan sepuh diisi oleh mereka yang merupakan keturunan asli dari Sunan Gunung Jati.  “Kami minta posisi Sultan Sepuh dikembalikan kepada keturunan Sultan Sepuh IV,” harapnya.

Menurutnya, sebenarnya yang paling berhak saat ini untuk berada di posisi Sultan Sepuh adalah keturunan dari Sultan Sepuh IV tersebut, sebab Sultan Sepuh V yaitu Sultan Sepuh Tajul Arifin Muhammad Sapiudin atau Sultan Matangaji yang meninggal karena dibunuh memiliki adik yaitu, Pangeran Abu Khayat Arya Penengah Surya Kusuma.

“Begini, yang menjadi Sultan Sepuh I yaitu Sultan Sepuh Samsudin kemudian diturunkan kepada anaknya untuk menjadi Sultan Sepuh II kemudian diturunkan lagi dari Sultan Sepuh II ke anaknya untuk menjadi Sultan Sepuh III, setelah itu diturunkan lagi dari Sultan Sepuh III ke anaknya untuk menjadi Sultan Sepuh IV dan seterusnya hingga ke Sultan Sepuh V. Sultan Sepuh V itu tidak memiliki keturunan, sehingga setelah meninggal karena dibunuh maka yang berhak itu adalah adiknya yaitu Pangeran Abu Khayat Arya Penengah Surya Kusuma yang artinya merupakan anak dari Sultan Sepuh IV. Hingga saat ini, keturunan langsung dari Pangeran Abu Khayat Arya Penengah Surya Kusuma itu banyak yang tinggal di Desa Mertasinga, saya merupakan generasi ke sembilan ada,” tuturnya.

Selanjutnya, menurutnya, Sultan Sepuh VI bukan lagi keturunan asli dari Sunan Gunung Jati. “Sejarah tidak boleh ditutupi, itu adalah peristiwa, kini tidak peteng (gelap) lagi. Tinggal sekarang bagaimana menyikapinya,” ujarnya.

Ia pun mengakui memang ada pertanyaan mengapa justru ramainya polemik takhta Sultan Sepuh itu saat ini, dan tidak sejak dulu.

“Kenapa tidak saat Sultan Sepuh XIII PRA Maulana Pakuningrat atau Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat, kenapa ramainya saat ini? Saat ini, sudah saatnya kebenaran itu muncul. Kita sebagai keturunan harus bertanggung jawab terhadap leluhur, apa pun risikonya,” ujarnya.

Garis perempuan

Berdasarkan sejarah, Pangeran Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana mewariskan takhta kepada Sunan Gunung Jati yang merupakan keponakannya atau putra dari adik perempuannya, yaitu Ratu Mas Dewi Rarasantang. Hal ini, menurut Udin, tidak lantas serta merta siapa yang menjadi Sultan Sepuh harus berdasarkan nasab laki-laki.

“Kalau kita lihat sejarah awal bahwa Sunan Gunung Jati itu dari garis perempuan, yaitu dari ibunya. Yang menyatakan bahwa posisi Sultan Sepuh itu harus nasab laki-laki memang betul merupakan pernyataan turun temurun dari kesultanan. Namun kalau melihat sejarah awal ya Sunan Gunung Jati itu dari garis perempuan. Pangeran Cakrabuana sendiri memilih Sunan Gunung Jati untuk mewarisi takhta karena beliau ini mampu, ia tidak melihat Sunan Gunung Jati ini dari garis nasab laki-laki dan ia pun bukan merupakan anak kandungnya, pertimbangannya karena mampu,” katanya.

Oleh karena itu, menurutnya, saat ini siapa pun yang menjadi Sultan Sepuh XV haruslah merupakan garis keturunan dari Sunan Gunung Jati serta jangan mempersoalkan soal garis nasab dari laki-laki atau perempuan.

“Jangan ngotot dari garis nasab laki-laki. Yang penting dia mampu dan merupakan keturunan asli. Saat ini ketika berbicara Sultan Sepuh bukan lagi bicara soal perebutan kekuasaan melainkan penegakan syariat Islam. Saat ini yang terpenting adalah meluruskan sejarah,” tuturnya.

Ia menambahkan, keluarga besar Mertasinga akan bermusyawarah dan bermunajat untuk menentukan nama siapa yang paling cocok menjadi Sultan Sepuh XV. “Kita akan bermunajat siapa yang nantinya mendapat wahyu kaprabon,” katanya.

Menurutnya, keluarga besar Mertasinga dan pihak Luqman belum berkomunikasi.  “Secara resmi di antara kami belum datang satu sama lain. Yang jelas dari keluarga Mertasinga akan ambil sikap, salah satu langkahnya yaitu menggagas tentang pembentukan Dewan Kefamilian Cirebon sebagai wadah aspirasi famili, kita nanti akan deklarasikan,” tuturnya.

Sementara itu, Filolog Cirebon Raffan S Hasyim mengatakan, berdasarkan silsilah, keluarga besar Mertasinga memang merupakan keturunan langsung dari Sunan Gunung Jati. “Memang nyambung (keturunannya),” ujar pria yang akrab disapa Opan ini.

Namun, menurutnya, alangkah lebih baiknya keluarga besar Mertasinga melakukan dialog, baik dengan pihak Luqman maupun dengan pihak Rahardjo. “Berdialog merupakan cara terbaik saat ini, ajak dialog baik pihak Luqman maupun pihak Rahardjo,” ujarnya.(Fanny)