Wali Kota Tak Mau Ikut Campur Urusan Keluarga Keraton Kasepuhan

1
Wali Kota Cirebon H Nashrudin Azis.*

CIREBON, (KC Online).-

Wali Kota Cirebon H Nashrudin Azis menegaskan sikapnya yang tidak mau turut campur dalam konflik di Keraton Kasepuhan, yang dinilainya sebagai urusan internal keluarga Keraton Kasepuhan.

Sikap tersebut disampaikan Azis seusai menerima Rahardjo Djali, yang videonya yang tengah menggembok kediaman Sultan Sepuh XIV viral, di rumah dinas wali kota, Senin (29/6/2020) malam.

Saat menemui wali kota, Rahardjo didampingi salah seorang kerabatnya, Elang Heri. Sedangkan Azis didampingi tokoh masyarakat Cirebon, Dadang Sukandar Kasidin yang juga Ketua Yayasan Pendidikan Swadaya Gunung Jati. Pertemuan sendiri berlangsung tertutup.

Meski bersedia menerima Rahardjo Djali, Azis menegaskan, pertemuan tersebut sama sekali tidak ada kaitan dengan dukung mendukung salah satu pihak. “Saya sudah melihat adanya video yang viral dan sudah memanggil dinas terkait. Sikap saya selaku Wali Kota Cirebon sangat jelas, tidak mau ikut campur dalam urusan keluarga keraton,” kata Azis.

Menurutnya, dari informasi dan laporan yang didapatnya dari SKPD terkait, diperoleh kesimpulan kalau kejadian tersebut lebih bernuansa konflik keluarga. Sehingga menurut Azis, sikap Pemda Kota Cirebon sangat jelas, tidak akan mencampuri urusan internal keluarga Keraton Kasepuhan.

“Pemerintah daerah memang punya kewajiban melindungi dan mengamankan bangunan keraton-keraton yang ada di Kota Cirebon karena merupakan benda cagar budaya yang bukan hanya dimiliki Kota Cirebon, namun juga aset bangsa. Tetapi untuk masalah internalnya soal keturunan dan sebagainya, bukan masalah pemda, sehingga bukan ranah Pemda Kota Cirebon untuk ikut campur,” kata Azis.

Azis pun mempersilakan masing-masing pihak untuk musyawarah menyelesaikan masalah sesuai dengan jalurnya, keluarga, atau adat dan sebagainya. Namun selaku kepala daerah, Azis berpesan penyelesaian masalah tersebut jangan sampai menimbulkan konflik berkepanjangan apalagi sampai menimbulkan tindakan anarkisme.

Azis juga berharap kedua belah pihak untuk saling menahan diri jangan sampai melakukan aksi atau memberikan statemen yang memanaskan situasi.

“Kami berharap pihak-pihak yang berkonflik untuk tidak melakukan sesuatu yang bakal membuat panas situasi dan kondisi. Kalau sampai terjadi, pemda tentu akan melakukan pencegahan terlebih dahulu,” tegasnya.

Sejauh ini, Sultan Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat menyerahkan tindak lanjut persoalan tersebut kepada musyawarah keluarga, termasuk rencana membawa persoalan tersebut ke ranah hukum.

“Untuk tidak lanjut semua diserahkan ke keluarga, karena saya masih dirawat  di Bandung,” tulis Sultan Arief dalam pesan WA yang diterima KC.

Siap memfasilitasi

Tokoh masyarakat Cirebon Dadang Sukandar Karsidin yang ikut dalam pertemuan tersebut mengaku pihaknya siap memfasilitasi pertemuan antarpihak yang berkonflik di Keraton Kasepuhan.

Sementara itu Elang Heri yang juga ikut dalam pertemuan tersebut mengungkapkan, kehadiran mereka berdua menemui wali kota, untuk menyampaikan duduk persoalan sebenarnya. “Kami hanya ingin menyampaikan kepada Pak Wali apa yang sebenarnya terjadi. Ini murni masalah keluarga,” tegasnya.

Sementara itu, sejarawan Cirebon Eva Nur Arofah, apa yang dilakukan Rahardjo dan kawan-kawan menimbulkan tanda tanya besar dan banyak spekulasi. “Apa yang diinginkan dan yang mendasari tindakan pelaku, tidak jelas. Ada kontradiksi dalam pernyataan yang diungkapkan pelaku dalam video dan pernyataannya di media,” katanya.

Kontradiksi ini yaitu di satu sisi Rahardjo mengungkapkan mengambil alih tahta, namun di sisi lain ia hanya mengungkapkan keresahannya akan kondisi keraton yang katanya tidak terawat.

“Maunya dia sebenarnya apa? Karena kalau namanya kudeta itu kan terstruktur, ada timnya, rencananya disusun lama serta menggunakan strategi dan memanfaatkan momentum. Namun yang saya lihat di video dan baca di media, ada banyak hal yang cukup banyak memunculkan pertanyaan,” paparnya.

Meski diakuinya rebutan tahta menjadi siklus yang berulang di banyak keraton, namun menyaksikan video yang viral dan pernyataan yang diberikan Rahardjo, Eva menyebut ada banyak pertanyaan besar.

Sehingga bagi Eva yang juga mengajar sejarah di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Pangeran Dharma Kusuma Indramayu tersebut, apa yang ada di balik kejadian itu justru poin yang sangat penting untuk ditelusuri dan dicermati.

“Di balik ini ada apa? Siapa di balik siapa?  Kepentingannya apa dan kenapa serta banyak pertanyaan lainnya? Detail dan terperinci itu sangat penting. Karena dari relasi nasab sangat jauh,” katanya.

Bagi Eva, kunci masalahnya cuma tiga yakni detail melihat persoalan, dekonstruksi peristiwa sehingga jelas ada apa, kepentingannya apa, siapa di balik siapa, dan jika ternyata ada persoalan maka resolusi konflik yang harus dikedepankan?

“Duduk bersama bagi saya lebih masuk akal dalam menyelesaikan masalah ini. Jangan sampai Keraton Kasepuhan yang harus kita jaga marwahnya, malah menjadi bahan olok-olok,” tambah Eva.(Fanny).