KEPALA Bidang Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian Perkebunan Balitbangtan Kementan RI, Dr. Teddy Dirhamsyah, S.P.,MAB saat menjadi pemateri dalam seminar online (webinar) yang diselenggarakan Program Studi (Prodi) Magister Pertanian Sekolah Pascasarjana UGJ Cirebon, dengan mengangkat tema
KEPALA Bidang Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian Perkebunan Balitbangtan Kementan RI, Dr. Teddy Dirhamsyah, S.P.,MAB saat menjadi pemateri dalam seminar online (webinar) yang diselenggarakan Program Studi (Prodi) Magister Pertanian Sekolah Pascasarjana UGJ Cirebon, dengan mengangkat tema "Menjaga Ketahanan Pangan pada Situasi New Normal". Selasa (30/6/2020).* Alif/KC Online

KESAMBI, (KC Online).-

Guru Besar Magister Pertanian, Pascasarjana Universitas Swadaya Gunungjati (UGJ) Cirebon, Prof. Dr. Ir. H. E Tajudin, M.S mengajak masyarakat untuk melakukan diversifikasi karbohidrat dan tidak melalu bergantung pada beras sebagai makanan pokok.

Hal itu disampaikan Prof. Tajudin dalam seminar online (webinar) yang diselenggarakan Program Studi (Prodi) Magister Pertanian Sekolah Pascasarjana UGJ Cirebon, Selasa (30/6/2020) dengan mengangkat tema “Menjaga Ketahanan Pangan pada Situasi New Normal”.
Webinar yang dimoderatori Ketua Prodi Magister Pertanian UGJ, Dr. Dwi Purnomo, S.TP,M.Si menghadirkan narasumber secara online yakni Dr. Teddy Dirhamsyah, S.P.,MAB selaku Kepala Bidang Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian Perkebunan Balitbangtan Kementan RI, Dr. Ali Efendi,M.M (Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon), Dr. Ir. Amran Jaenudin, MS (Kepala LIP UGJ) Prof. Dr. Ir. H. E Tajudin, M.S (Guru Besar Pasca Sarjana UGJ), dan Yan Andrian, S.E (petani milenial bawang merah).
“Untuk mengurangi impor beras yang terus meningkat, dalam situasi new normal, hendaknya harus melakukan diversifikasi karbohidrat. Seperti, sarapan dengan ubi-ubian yang rendah gula. Makan siang, penuhi karbonya dari beras. Dan makan malam, karbonya dari talas ditambah buah-buahan. Selain sehat, impor beras secara signifikan bisa dikurangi,” tutur Tajudin.

Hal senada juga disampaikan narasumber dari Kementerian Pertanian RI, Dr. Teddy Dirhamsyah, S.P.,MAB selaku Kepala Bidang Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian Perkebunan Balitbangtan. Ia menegaskan, stok cadangan beras yang dimiliki pemerintah sangat terbatas. Hal ini terjadi karena berbagai faktor terutama masalah cuaca yakni kemarau panjang yang melanda Pulau Jawa dan puncaknya diprediksi pada Agustus 2020 mendatang.

“Perkiraan stok beras akhir tahun 2020, 661.810 ton. Sementara stok bulog minimal 30 Desember 2020 adalah 2.500.000 ton. Dengan kondisi ini, maka pemerintah akan mengambil opsi impor beras. Dan itu pun bukan hal yang mudah. Negara pengimpor beras seperti Thailand dan Vietnam, tidak begitu saja melepas berasnya, karena mereka juga harus memenuhi kebutuhan pangan dalam negerinya,” kata Teddy.

Ia juga mengaku prihatin karena ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap beras sebagai pangan pokok sangat tinggi. Padahal pada tahun 1954, konsumsi beras hanya 50 persen, ubi kayu 22,26 persen, jagung 18,9 persen dan kentang 4,99 persen.
Lalu pada tahun 1987, konsumsi beras naik jadi 81 persen, ubi kayu 10 persen, jagung 8 persen. Lalu, tahun 1999 ubi kayu hanya 8,8 persen jagung 3 persen. Tahun, 2020 pangan pokok selain beras hilang. Konsumsi terigu naik 500 persen, padahal terigu adalah produk impor.

Karenanya, ia mengajak kepada pemerintah daerah, desa, seluruh kalangan civitas akademi khususnya UGJ dan masyarakat untuk memanfaatkan lahan pekarangan untuk bercocok tanam, budidaya unggas dan ikan. Karena ternyata, luas lahan pekarangan di Indonesia sebesar 10,3 juta hektare. Jauh lebih luas dari luas lahan sawah sebesar 7,4 juta hektare.

“Jika itu sudah terbentuk, bukan hanya tercapainya ketahanan pangan juga menjadi pendapatan bagi masyarakat. Pihak desa dengan BUMDes-nya, bisa menampung hasil dari pemanfaatan lahan pekarangan tersebut, untuk dijual ke kota-kota besar,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, Dr. Ali Efendi, M.M menyampaikan di masa pandemi Covid 19, produksi petani di Kabupaten Cirebon justru surplus. Pihaknya juga siap menjaga ketahanan pangan nasional demi tercapainya kedaulatan pangan, kemandirian pangan dan keamanan panan.
“Surplus terjadi karena banyak warga yang kena PHK akhirnya ikut menanam padi di kampung, sehingga produksi beras pun melimpah,” katanya.

Direktur Pascasarjana UGJ, Dr. H. Endang Sutrisno, S.H., M.Hum, CIQaR menyampaikan, webinar kali ini diikuti 450 partisipan. “Pascasarjana UGJ untuk riset sudah masuk pada cluster pertama, artinya bahwa dengan nettworking yang kami bangun dengan Bidang Kerjasama dan Pendayagunaan Hasil Penelitian Perkebunan Balitbangtan Kementan RI, kami berharap ada riset kolaborasi menyangkut problem pertanian. Kemudian, webinar ini diharapkan dapat memberikan dampak positif kepada masyarakat dan pendalaman keilmuan di bidang pertanian bagi kalangan akademisi dan praktisi,” kata Endang Sutrisno. (Alif/KC Online)