Keturunan Keraton Ungkap Asal Usul dan Silsilah Sultan Sepuh XI, Rahardjo Ajak Sultan Arief Tes DNA

472
KERATON Kesepuhan Cirebon.* Dok/KC

CIREBON, (KC Online).-

Pria yang viral dalam video penggembokan pintu Dalem Arum Keraton Kasepuhan, Raden Rahardjo Djali mengungkapkan asal usul atau silsilah keluarganya. Menurut Rahardjo, silsilah keluarganya memang menyatakan dirinya merupakan keturunan langsung dari Sultan Sepuh XI benar adanya, sehingga menurutnya, dirinya tidak mengaku-aku sebagai keturunan langsung dari Sultan Sepuh XI.

“Saya merupakan anak dari putri Sultan Sepuh XI atau cucu dari Sultan Sepuh XI. Kalau ada yang meragukan keaslian turunan ini, monggo hubungi saya langsung,” tutur Rahardjo, Senin (29/6/2020).

Pada saat mendatangi Keraton Kasepuhan untuk penggembokan pun, menurutnya, ia tidak bertindak secara pribadi. “Tapi atas nama keluarga besar kami, bukan bertindak secara pribadi,” ujarnya.

Ia menambahkan, dirinya merupakan putra pertama dari Ratu Mas Dolly Manawijah. Ratu Mas Dolly Manawijah sendiri merupakan putri  dari Sultan Sepuh XI dengan istri kedua yang bernama Nji Mas Rukiah. Ratu Mas Dolly Manawijah ini memiliki saudara kandung laki-laki yang bernama Raden Soegiono.

Menurut Rahardjo, Raden Soegiono inilah yang seharusnya menaiki tahta saat Sultan Sepuh XI wafat. Sebab, istri pertama dari Sultan Sepuh XI yaitu Raden Aju Radjapamerat tidak memiliki anak laki-laki, namun  punya anak angkat laki-laki bernama Alexander Radja Radjaningrat.

Alexander merupakan anak dari orientalis bangsa Belanda yang bermukim di Keraton Kasepuhan, Snouck Hurgronje. Ia pernah datang ke Kota Suci Makkah Arab Saudi di bawah kekuasaan Dinasti Otoman Turki untuk belajar Islam.

Setelah mempelajari Islam, Snouck Hurgronje ditugaskan Pemerinah Hindia Belanda ke Indonesia yakni ke Keraton Kasepuhan Cirebon dengan dalih mempelajari Islam lebih dalam. Seiring berjalannya waktu, Snouck Hurgronje menikah siri dengan wanita kerabat Keraton Kasepuhan yang salah satu anaknya bernama Alexander.

“Untuk menggantikan Sultan Sepuh XI, Raden Soegiono terlalu kecil karena saat itu baru berusia 9 tahun. Ada kevakuman saat itu. Kemudian, atas campur tangan pihak Belanda, Alexander yang merupakan anak angkat dari Sultan Sepuh XI dengan istri pertama diangkat jadi Sultan Sepuh XII,” katanya.

Penerus sang ayah

Rahardjo mengaku pada perjalanannya, Raden Soegiono pernah ditawari menjadi penerus sang ayah. Namun, Soegiono enggan meneruskan tahta dari ayah karena sibuk dengan karier sebagai pejabat di Bank Indonesia.

“Memang tidak mau tapi saat itu beliau berpesan siapa pun sultannya harus menjaga syiar Islam dan peninggalan leluhur dengan baik,” katanya.

Sementara itu Alexander, lanjut dia, memiliki 10 anak dari hasil tiga kali pernikahannya. Anak pertama bernama Maulana Pakuningrat yang kemudian naik tahta setelah menggantikan Sultan Sepuh XII Alexander setelah meninggal dunia.

“Dari hasil pernikahan Maulana Pakuningrat dengan wanita asal Bandung dikaruniai lima anak dengan anak pertama Arief Natadiningrat yang kemudian ditunjuk menjadi Sultan Sepuh XIV,” ujar dia.

Rahardjo mengaku pihaknya sudah menyiapkan sultan pengganti Arief yang merupakan cucu dari anak hasil pernikahan Sultan Sepuh XI dengan istri pertamanya yakni Ratu Radja Wulung Ayuningrat.

Pada kesempatan tersebut, Rahardjo mengajak Sultan Arief untuk melakukan tes DNA dalam dua tahap. Yakni tes DNA dengan sepupu Sultan Arief yang dinilai memiliki kesamaan DNA dari Alexander.

Tahap kedua yakni melakukan tes DNA dengan anggota keluarga besar Keraton Kasepuhan Cirebon yang lainnya. Namun demikian, pihak keluarga sah mengaku akan terus melakukan pendekatan persuasif untuk menjaga kondusivitas di masyarakat.

“Kami sudah siapkan yang pantas menduduki takhta Sultan Sepuh sekarang namanya Elang Mas Upi Supriyadi,” ujar dia.

Sebelumnya diberitakan, Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat menyatakan, sampai saat ini keraton dalam kondisi kondusif,  wewenang dan kendali keraton ada pada Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Cirebon.

“Oknum  yang mengaku mengambil alih Keraton Kasepuhan Cirebon bukanlah orang yang berhak atas tahta Keraton Kasepuhan Cirebon,  baik secara silsilah, adat istiadat serta tradisi yang berlaku secara turun temurun Kasultanan Kasepuhan Cirebon, sehingga tindakan tersebut merupakan tindakan iseng yang sangat tidak berdasar,” katanya, dalam keterangan resminya.

Arief menambahkan, oknum tersebut tidak berhak atas gelar kerajaan dan bukan sultan dan bukan merupakan putra sultan.

Dia menegaskan, yang berhak atas gelar sultan harus merupakan putra sultan, sesuai adat istiadat serta tradisi yang berlaku secara turun temurun kesultanan di Keraton Kasepuhan Cirebon.(Fanny)