Dana Pemulasaran Jenasah

190

DI tengah wabah Covid-19, semu hal yang berkaitan dengannya harus transparan. Transparan berupa anggaran penanganan, sosialisasi dan bahkan mengenai pemulasaran jenasah Covid-19. Karena kalau tidak transparan maka akan menjadi preseden buruk. Selain itu, juga berpotensi menimbulkan kegaduhan di kalangan penerima anggaran itu sendiri.

SALAH satu anggaran yang kini lagi ramai dibicarakan adalah dana untuk pemulasaran jenasah dari Pemerintah. Sebab, anggaran untuk pemulasaran pemakaman jenasah akibat wabah virus Corona atau Covid-19 dinilai sangat kecil. Jika dirinci, satu jenasah dianggarkan sebesar Rp 3 juta, sedangkan praktik di lapangan setiap satu jenasah diperlukan anggaran sekira Rp 20 juta.

Salah satu pihak yang mempertanyakan anggaran tersebut yakni Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Waled. RSUD Waled mengaku mendapat aspirasi dari petugas kesehatan penanganan Covid-19 di RSUD Waled yang mempertanyakan besaran anggaran pemulasaran pemakaman jenasah Covid-19. Aspirasi dan pertanyaan tersebut kemudian disampaikan manajemen RSUD Waled kepada DPRD Kabupaten Cirebon dalam kesempatan dengar pendapat di kalangan mereka.

Berdasarkan pengalaman yang dilakukan RSUD Waled, untuk pemulasaran pemakaman satu jenasah pihaknya  harus mengeluarkan anggaran hingga Rp 20 juta. Hingga saat ini, sedikitnya pihak RSUD Waled sudah menjalankan proses pemulasaran sebanyak 15 jenasah Covid-19. Rinciannya, untuk satu pemulasaran dibutuhka 10 set untuk 10 orang tim pemulasaran, satu orang (1 set) itu biayanya sekira Rp 2 jutaan.

Dengan demikian, untuk 10 set tim pemulasaran RSUD Waled harus mengeluarkan anggaran sekitar Rp 20 juta untuk satu jenasah Covid-19. Tim yang bekerja terdiri dari petugas penggalian kubur hingga pengantar jenasah. Hingga sekarang sudah ada 15 lubang yang digali, terdiri dari empat lubang untuk pasien dari RSUD Waled, sedangkan sisanya dari rumah sakit rujukan.

Kita tahu, sesuai Permenkes RI, anggaran pemulasaran untuk satu jenasah hanya Rp 3 juta. Sedangkan kebutuhan di lapangan sekira Rp 20 juta. Hal itu jelas sangat timpang antara anggaran yang tersedia dengan biaya yang harus dikeluarkan di lapangan. Permasalahan ini belum termasuk ketiadaan petunjuk pelaksanaan (Juklak) dan petunjuk teknis (Juknis) mengenai  anggaran yang dikeluarkan RSUD Waled dalam pemulasaran jenasah Covid-19. Artinya, kekurangan itu dari mana mengambilnya?

Oleh sebab itu, agar tidak menjadi polemic berkepanjangan maka dewan dan pemda setempat harus berani mengambil langkah-langkah yang dapat menyelesaikan masalah anggaran pemulasaran jenasah ini. Jangan sampai kerja mereka berisiko tetapi fasilitas pun ada adanya.***